Parkinsound (sebelumnya, Mencari Harmoni) adalah salah satu acara musik elektronik dalam format festival yang pertama kali ada di Indonesia. Festival ini adalah bagian dari inisiatif kolektif Performance Fucktory yang berbasis di kota Yogyakarta.
Saduran dari situs web Tirto.id
Pada dekade 1990an, banyak seniman muda yang tertarik mengeksplorasi lebih dalam musik elektronik. Beberapa pemuda ini kemudian mendirikan sindikasi. Semisal Performance Fucktory yang berdiri di Yogyakarta pada 1997. Pendiri komunitas ini adalah Marzuki Mohamad yang sekarang lebih dikenal sebagai Kill the DJ, Kus Widananto yang populer dipanggil Jompet, Ari Wulu, Ugoran Prasad, dan Yosef Herman Susilo.
“Kami berlima sama-sama senang musik elektronik. Tapi waktu itu elektronika belum seperti sekarang, yang dikuasai EDM dan nge-pop. Waktu itu banyak turunan genre yang eksploratif dan liar,” ujar Juki, panggilan akrab Marzuki.
Dari Performance Fucktory inilah lahir Parkinsound, festival musik elektronik pertama di Indonesia. Nama Parkinsound merupakan gabungan tiga kata: “park”, “in”, dan “sound”. Perhelatan perdana mereka diadakan pada 1999, bertempat di Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta. Setahun kemudian Parkinsound diadakan di pilar Gedung Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta yang saat itu belum rampung dibangun.
Pada 2001 acara dibuat di Stadion Kridosono. Parkinsound berkembang perlahan. Pada gelaran pertama, penontonnya memang terbatas karena tempat yang tak luas. Pada gelaran kedua, penonton sudah berkisar seribuan orang. Pada Parkinsound 4, sekaligus terakhir, jumlah penonton diperkirakan mencapai 4.000 orang.
Festival ini dibuat dengan perjuangan berat. Beberapa kali Juki dan kawan-kawan harus nombok untuk menutupi kekurangan dana. “Kalau sekarang dikonversi, duit pribadi yang dipakai buat nombok itu sudah bisa buat beli mobil Innova. Hingga Parkinsound 3, semua yang ikut bekerja rata-rata berasal dari kawan di Forum Musik Fisipol UGM.”
Menurut Juki, musik elektronik kala itu memang punya citra yang tak bagus. “Banyak gelaran rave party yang dibubarkan aparat, ormas, atau justru warga sendiri.” Salah satu penyebabnya, menurut Juki adalah ekspresi acara-acara itu berjarak secara sosial budaya dengan lingkungan tempat yang digunakan. “Namun Parkinsound aman, karena lebih performatif, bukan rave party.”
Parkinsound tidak melulu menghadirkan musik elektronik. Ia menampilkan berbagai genre musik: jungle, deep house, industrial, hingga rock. Lebih seperti pertunjukan kawin massal musik elektronik dengan genre musik lain. Beberapa band yang pernah tampil di sini adalah Electrofux, Mobil Derek, Melancholic Bitch, Homogenic, Teknoshit, hingga Koil.
Festival bersejarah ini tidak pernah lagi digelar, terakhir berlangsung pada 2004. Alasannya sederhana, Juki dan kawan-kawan sadar bahwa mereka adalah seniman yang kodratnya adalah berkarya, bukan sebagai promotor konser.
“Kalau mau menghidupkan Parkinsound lagi, saat ini saya sudah tidak begitu tertarik kerja promotor dan organizing-nya, tapi bagaimana memproduksi konten artistik dan spectacle-nya,” kata Juki.
Saduran dari situs web Cherry Pop Festival
Dari skena elektronik lahir event bertajuk Parkinsound yang tercatat sebagai festival musik elektronik pertama di Indonesia, dan menjadi tonggak penting lahirnya kultur pesta di Yogyakarta. Parkinsound juga menginspirasi lahirnya club malam di Yogyakarta, serta festival musik elektronik lain di Indonesia.
Perhelatan perdana Parkinsound diadakan pada 1999, bertempat di Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta. Tiap tahunnya, festival ini dibanjiri oleh penonton. Seiring perjalanannya, jumlah penonton yang hadir terus meningkat.
Dikutip dari ‘Sejarah Musik EDM dan Kultur Pesta di Jogjakarta’ di Mojok.co, Parkinsound berhasil berjalan hingga empat edisi, dan menggaet penampilan Teknoshit, Performance Fucktory, Melancholic Bitch (sekarang: Majelis Lidah Berduri), Homogenic, hingga Koil.
Saduran dari situs web Mojok.co
Keruntuhan pemerintahan Soeharto menjadi pemantik meledaknya gerakan kreatif ,masif, dan revolusioner yang menumpuk di Jogja. “Kebebasan” baru yang dirasakan seluruh anak muda pun menghasilkan ombak perubahan yang baru. Kebetulan diluar FMF, Kill the DJ juga membentuk komunitas bernama Performance Fucktory yang beberapa anggotanya masih tergabung dalam FMF. Kolaborasi kedua komunitas melahirkan sebuah acara musik elektronik bernama Parkinsound yang berasal dari gabungan tiga kata: “park”, “in”, dan “sound”. Parkinsound tercatat sebagai festival musik pertama di Indonesia dan menjadi tonggak penting lahirnya kultur pesta di Yogyakarta. Parkinsound juga menginspirasi lahirnya club malam di Yogyakarta serta festival musik elektronik lain di Indonesia.
Perhelatan perdana Parkinsound diadakan pada 1999, bertempat di Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta. Tiap tahunnya, festival ini dibanjiri oleh penonton. Seiring perjalanannya, venue juga makin mumpuni dan tiap tahunnya jumlah penonton yang hadir terus meningkat.
Parkindsound berhasil berjalan hingga empat edisi, dan manggaet penampilan Teknoshit, Performance Fucktory, Melancholic Bitch, Homogenic, hingga Koil. Pada tahun-tahun akhirnya, festival bersejarah ini sudah pernah menikmati gelaran di stadion Kridosono, Yogyakarta. Angka pengunjung berhasil mencakar angka mengejutkan: hingga 4.000 pengunjung yang meramaikan gelaran keempat dan terakhirnya tahun 2004.
Tahun Inisiasi
Riwayat Acara
| Waktu | Nama Acara | Pengisi Acara | Jenis Aktivitas | Tempat | Pranala |
| 5-6 Juli 2001 | Parkinsound 3 | Mesin Jahat, Devilicia Project, Six Is Nothing, C.04, Calludra, Liquid, Playaz, Teknoshit, Melancholic Bitch, Mock Me Not, Garden of the Blind, The Dy-Na-Mix Duo, Fucktory, Bagaikan, Mobil Derek, dan Electrofux | Pertunjukan Musik | Stadion Kridosono Yogyakarta | [1] |
| 9-10 Oktober 2004 | Parkinsound 4 – Global Underground | Electrofux, Melancholic Bitch featuring Vanda, Koil, Rhino, Homogenic, Second Floor, Agrikulture, Ark, Jerome feat FanDyFMC, Numan, JoeVan, dan Yudhis | Pertunjukan Musik | Pelataran Candi Prambanan, Sleman, Yogyakarta | [1] [2] [3] [4] |
Media


Informasi Parkinsound 4 adalah kontribusi oleh Danang Rusdiyanto pada lokakarya penataan arsip Jogja Sonic Index, 2-3 Februari 2023, di Rumah Lifepatch.

