Gending-Gending Komputer

Written in

by


Format


Takarir

Saduran dari situs web Tempo

Ugm mempergelarkan eksperimen simfoni gamelan/pergelaran gending-gending yang diciptakan melalui komputer. menurut sastro pustoko nadanya meloncat-loncat. (ms)

DESEMBER tahun lalu dalam rangka acara Dies Natalis ke-27 Universitas Gajah Mada, dipergelarkan apa yang dinamakan “Eksperimen Simfoni Gamelan/Pergelaran Gending-Gending Komputer”. Istilah ini memang terdengar masih kaku di telinga orang awam. Sebagaimana diketahui di Universitas paling tua itu ada Wasisto Surjodiningrat MSc seorang ahli gamelan dan matematika. Bersama dengan Dr. V.K. Khandelwal, seorang ahli komputer dari India yang diperbantukan pada proyek pemugaran Borobudur, dan ir. F. Soesianto, dosen Fakultas Teknik Listerik, telah dicoba mencari patokan “patet” dengan menggunakan komputer. Patet yang bisa disalin sebagai “tempat mendudukkan gending”, merupakan bagian sistim nada dalam gamelan Jawa yang disebut laras. Sistim nada slendro mempunyai 3 patet (patet rem, sanga, manyura), sama dengan pelog (patet lima, hem dan barang). Menurut Wasisto pengertian patet termasuk pengertian musik yang sulit.

Dalam dapur percobaan- “gending gending komputer”, input yang dipergunakan adalah gending-gending yang masih dipakai serta gending-gending yang tak terpakai lagi. Sebagai outputnya terciptalah gending-gending komputer yang tidak tergolong dalam salah satu patet. Kabarnya telah ada sekitar 414 buah gending yang diciptakan melalui komputer. Tentu saja tidak semuanya dapat dinilai bagus. Tapi sudan terang, dengan mudah sekali dapat diciptakan variasi gending dalam jumlah ratusan atau ribuan. Usaha-usaha ini cepat-cepat diberi catatan bahwa iktikadnya tidak bermaksud untuk membunuh gending Jawa. Justru “penciptaannya” untuk mengembangkan cakrawala kebudayaan Jawa, sebagaimana yang diterangkan oleh ir. Soesianto. “Soal suka atau tidak suka, itu terserah, sebab musik adalah musik, untuk dinikmati”, tukas dosen itu. Ia juga menjelaskan bahwa dengan komputer itu dapat diketemukan gending-gending underground. Sayang sekali tak sempat dijelaskan apa yang dimaksudnya dengan istilah tersebut.

Terhadap acara dalam Dies itu, Sastro Pustoko, ahli gamelan Kraton Yogya angkat suara: “Penciptaan gending-gending erat hubungamlya dengan rasa. Sedangkan komputer hanya mendasarkan pada input yang masuk jadi orang-orang tua merasakan tidak cocok, karena nadanya meloncat-loncat. Rasanya tidak enak didengar dan tidak enak dirasakan”. Tokoh yang sudah sejak jaman Belanda berkecimpung dalam soal gamelan ini tak ragu-ragu mengatakan pula bahwa ia seperti merasa musik itu seperti anak-anak yang memukul gamelan dengan tidak ada aturan nada. Barangkali inilah gerangan yang tadi dinamakan underground. Menjawab pertanyaan TEMPO, adakah gending komputer tersebut layak disebut gamelan, Sostro Pustoko kontan menjawab: “Tidak ! lebih cocok disebut gamelan pop”. Widaryanto, puteranya, yang juga aktip sekali dalam menabuh gamelan, memberikan sokongan penuh. “Dipandang dari sudut seninya, gending komputer tidak ada seninya”, ujarnya dengan tegas. Memang karena lebih banyak merupakan kegiatan ilmiah. Iapun tak menyembunyikan kekhawatirannya kalau-kalau gending macam itu nantinya bisa mengancam gending lama yang sudah mantap dan antep di hati para musisinya maupun pendengarnya. Tapi kalau sudah mantap ya ndak usah kuatir, to mas.


Tahun


Penulis


Bahasa


Penerbit


Tempat Penerbitan


Pranala


Media


KONTRIBUSI

Situs ini dibangun dengan koleksi terbatas yang kami miliki. Kamu bisa menambahkan konten dengan mengisi formulir di bawah ini