Format
Takarir
Saduran dari situs web Tempo
Di pasar seni ancol diselenggarakan festival perkusi yang pertama dengan peserta dari manca negara.
TINGKAHAN bunyi dentam-berdentam menyemarakkan suasana santai di Pasar Seni Ancol. Dua pekan lalu, selama dua malam, para pemusik dari dalam dan luar negeri unjuk kebolehan memainkan bermacam jenis dan irama drum. Ini adalah festival drum antarbangsa yang pertama kali diselenggarakan.
Variasi peserta festival ini menarik. Peserta dari Indonesia bukan hanya terdiri dari pemusik kontemporer seperti Harry Roesli, Sapto Raharjo, atau pemusik jazz seperti Karim Suweileh, tapi juga pengamen jalanan dari Yogya, Sujud Sutrisno, grup Rebana Biang dari Betawi, atau Hudog dari suku Modang, Kalimantan Timur. Dari mancanegara ada perkusionis Australia yang handal seperti Ron Reeves atau penabuh ulung Ras Asambai dari Jamaika.
Gagasan festival ini bermula dari penyelenggaraan lomba menabuh beduk yang setiap tahun diselenggarakan di Ancol. Kebetulan pengamat musik Franki Raden membantu perlombaan yang diprakarsai oleh Ciputra, bos Ancol itu. ”Tapi kalau cuma lomba nabuh beduk, sebenarnya kan tidak perlu minta bantuan saya,” kata Franki Raden yang juga dosen Institut Kesenian Jakarta itu. Ia lantas melontarkan gagasan festival perkusi ini, dan Ciputra mendukungnya dengan dana Rp 70 juta.
Menurut Franki, yang pernah belajar etnomusikologi di AS, Indonesia punya banyak jenis drum. Kedudukan beduk atau drum itu dalam kehidupan tradisi dan budaya di setiap daerah sangat vital. Beduk, misalnya, bagi kaum muslimin merupakan salah satu alat untuk menandai waktu salat. Orang Asmat bahkan percaya bahwa suara drum dapat menghidupkan orang yang sudah meninggal. Sementara itu, di Ghana, orang Asante menganggap drum sebagai lambang kekuasaan. Persepsi yang hampir sama terdapat pada orang Jepang, yang menganggap drum sebagai simbol kejantanan.
Malam itu kelompok Harry Roesli tampil dengan delapan pemain drum, dua gitaris, dan dua pemain keyboard, masih ditambah tiga orang ”penari”. Pukulan-pukulan nada 1/16 dimainkan beruntun dan berulang-ulang, bervariasi antara tabuhan-tabuhan keras dan lemah, dengan aksentuasi yang tak beraturan. Kelompok kontemporer lainnya ialah Sapto Rahardjo. Kelompok dari Yogya ini membawakan komposisi Do, yang menggarap bunyi dari membranofon, yaitu perkusi yang datarannya dari kulit. Bunyi-bunyian itu diproduksi melalui komputer. Instrumen kelompok ini hampir memenuhi pentas.
Selain itu juga ada yang tradisional seperti Glipang dari Purbolinggo atau Hooyak dari Padangpanjang, keduanya berlatar belakang budaya Islam. Sujud Sutrisno sama urakannya dengan Harry. Pengamen jalanan dari Yogya ini menyajikan pertunjukan yang segar. Dengan satu kendang besar dan tiga kendang kecil, ia bermain dengan improvisasi yang bebas, seperti layaknya pertunjukan kesenian rakyat yang spontan. Ia menyuguhkan beberapa lagu yang liriknya dipelesetkan secara lucu. Hiburan jenis ini ternyata sangat komunikatif dan pas, hingga mendapat sambutan meriah para penonton.
Ada peserta lain dari Indonesia yang menarik, yaitu Ben Pasaribu, komponis asal Tapanuli yang belajar etnomusikologi di AS. Ia menyuguhkan Sumatra Dwipa No.2 yang direka khusus untuk festival ini. Ia menggunakan berjenis-jenis drum khas daerah Tapanuli seperti drum renteng yang disebut taganing, marwas, gendang ronggeng, gendang Karo, gordang Mandailing, ndruridana Nias.
Peserta dari luar negeri yang tergolong menonjol antara lain Ras Asambai dari Jamaika. Negeri ini memang terkenal dengan permainan perkusi solo. Tak heran bila para penonton terkagum-kagum menyaksikan permainan Asambai yang menguasai aneka ragam perkusi seperti conga, timbalis, dan sekitar 60 macam instrumen perkusi lain yang ia ciptakan sendiri. Ia dibantu oleh Jimmy, gitaris dari Indonesia. Mula-mula ia mengajak penonton menjawab teriakannya. Lantas menggebuk keras-keras drumnya dengan irama rege. Ia mendendangkan lagu-lagu rakyat Jamaika yang berirama rap. Beberapa patah kata Indonesia yang ia hafal dilontarkannya dengan jenaka. Meski bermain dengan bersungguh-sungguh, pemusik berkulit hitam ini kecewa. ”Penonton Indonesia kurang agresif,” katanya usai pertunjukan kepada Niniek M. Karmini dari TEMPO.
Peserta dari luar negeri yang juga menarik ialah Percussion Orchestra, yang terdiri dari para pemain multinasional: Roto Weber (Swiss), Djamchid Chemirani (Iran) dan Emilien Sanao (Burkina Faso). Mereka tampil dengan perkusi yang khas dari negeri masing-masing. Mereka juga mencoba memadukannya dengan gamelan. Pada tahun 1991 kelompok ini ikut meramaikan JakJazz 1991 yang juga berlangsung di Ancol. Peserta lain yang mendapat sambutan ialah Ron Reeves. Perkusionis terkenal dari Australia yang tak asing di kalangan para penggemar jazz ini memang pernah mempelajari musik rakyat di sini selama beberapa tahun. Menyuguhkan musik yang digarap berdasarkan kendang rampak Sunda, malam itu ia tampil ditemani dua pemain kendang Sunda dari Bandung. Menurut Franki Raden, penampilan trio perkusionis ini merupakan eksperimen lintas budaya yang elok.
Tahun
Penulis
Bahasa
Penerbit
Tempat Penerbitan
Pranala
Media


