Format


Takarir

Saduran dari situs web Hai Grid

Kelompok musik ansambel asal Yogyakarta, Sandikala Ensemble, merilis sebuah musik eksperimentalberjudul ‘Kafka, Postmortem’.

Musikini adalah hasil eksplorasi Sandikala Ensemble terhadap sebuah cerita klasik yang ditulis oleh Franz Kafka di tahun 1912, ‘The Judgement’.

Cerita pendek yang berkisah tentang hubungan antara seorang pria dan ayahnya itu, diolah dan dinyanyikan dalam bentuk musik eksperimental oleh Sandikala Ensemble.

Menurut Dion Nataraja, composer Sandikala Ensemble, kisah ‘The Judgement’ punya cerita yang cukup absurd di bagian akhir saat tokoh protagonis bunuh diri setelah ayahnya menghukumnya mati dengan cara menenggelamkan diri.

“Meneruskan absurditas dalam cerita ini, saya meminta Redian Pragina Jali untuk membuat terjemahan bahasa Jawa dari akhir cerita,” ungkap Dion dalam sebuah press rilis.

Dengan menggunakan bahasa Jawa, teks-teks yang dilafalkan dalam lagu ‘Kafka, Postmortem’ diolah secara eksperimen dengan nuansa noise antara teknik vokal Kargyraa, overpressure rebab, dan distorsi elektronik.

Untuk bagian musik, Sandika Ensemble masih melanjutkan eksperimen dari karya-karya sebelumnya dengan memainkan alatmusik tradisional sepertikomponen-komponen gamelan dan nuansa dan musik elektronik.

“Kami menggunakan empat gendèr baru, yang secara total akan membentuk sistem penyetelan 36 nada, dua gendèr tidak memiliki pengulangan oktaf,” tambahnya.

Grup musik ansambel Sandikala Ensemble diinisiasi oleh Dion Nataraja (composer) dan Yusti Paradigma (gamelan-performer).

Saat ini Sandikala Ensemble beranggotakan Dion Nataraja, Yusti Paradigma, Roni Driyastoto, Mustika Garis, dan Suseno Setyo.

Penasaran dengan musik eksperimen ‘Kafka, Postmortem’? Lo bisa langsung dengerin diplatform streaming Soundcloud Dion Nataraja.


Tahun


Penulis


Bahasa


Penerbit


Tempat Penerbitan


Pranala


Media


KONTRIBUSI

Situs ini dibangun dengan koleksi terbatas yang kami miliki. Kamu bisa menambahkan konten dengan mengisi formulir di bawah ini