Unjuk Lema: Edisi Gamelan Jawa (Bagian 1)

Written in

by


Unjuk Lema adalah rubrik yang menghadirkan ringkasan informasi terkait lema-lema yang ada situs web Jogja Sonic Index.


Dalam konteks pulau Jawa (khususnya kota Yogyakarta), rasanya absurd jika kompleksitas gamelan serta segala rimba metode pendekatannya tidak dilibatan pada proses penelusuran sejarah oleh Jogja Sonic Index (JSI).

Selain informasi peralatan yang digunakan, artikel ini juga menjabarkan secara rinci metode pengukuran tala gamelan (merujuk oktaf dalam satuan cent per second) dalam eksperimen sampling gamelan. Di samping itu, para penyusun artikel juga menjabarkan data perangkat gamelan mana saja yang direkam bunyinya dan mana saja yang belum.

Potongan arsip sumbangan Bona Zustama (Ruang Melamun) ini bisa jadi merupakan satu dari sekian banyak titik terang terkait sejarah metode eksperimentasi, atau lebih tepatnya perjumpaan antara instrumen musik tradisional dan teknologi, terjadi.

Alih-alih merujuk pada hasil akhir estetika bunyi saja (seperti catatan notasi gamelan ke instrumen lain atau berbagai upaya penggubahan musik gamelan dengan musik lain), penelusuran sejarah eksperimentasi musik juga harus merujuk pada serangkaian metode penciptaan maupun penyelidikan seperti pada artikel di atas.

Mau sesederhana atau semegah apa pun metodenya, JSI merasa bahwa narasi tersebut wajib melekat sebagai justifikasi keputusan pencatatan dan pelabelan jenis musik di spektrum ini.


Masih singgah dalam ranah metode perjumpaan antara gamelan dan teknologi, Wasisto Surjodiningrat pernah memuat artikel tentang pendekatan komputeristik terhadap gamelan di Majalah Pusara Edisi 7 Tahun 1969 sumbangan Bona Zustama berikut.

Pada bagian pembuka artikel tersebut, putra BPH Surjodiningrat ini mengulas interaksi antara gamelan dengan jenis musik lain yang bisa ia catat di masa itu maupun sebelumnya. Misalnya siaran-siaran musik campurasi oleh RRI Semarang, perbauran musik terhadap gending “Modernisasi Desa” milik Ki Wasitodipuro, dan perpaduan antara Kyai Sirat Madu dengan musik Orkes Simfoni Angkatan Darat Korem-72. Bagi dirinya, hal paling penting dalam proses pemaduan adalah bagaimana prinsip slendro dan pelog dari gamelan sendiri harus tetap dipertahankan. Penanda perpaduan yang gagal baginya adalah ketika bunyi instrumen non-gamelan lebih keras dari instrumen halus gamelan atau suara pesinden.

Di bagian selanjutnya, ia mengutip artikel majalah American Mathematical Monthly yang menjabarkan bahwa Shephard Tones oleh Roger Shephard telah memungkinan penciptaan musik melalui komputer tanpa melibatkan instrumen musik sama sekali. Ia juga mengutip percakapannya dengan Mantle Hood (Etnomusikolog dari UCLA) tentang kemungkinan penciptaan gending baru (yang merujuk gending Sri Rejeki) melalui perangkat komputer, serta penelitian Leon Knopoff terhadap selndro patet sanga yang dimuat di Selected Reports Institute of Ethnomusicology UCLA Vol. 1 No. 1 dengan tajuk “A Progress Report on an Experiment in musical synthesis.”

Sebagai catatan samping, Wasisto mengajak pembaca untuk mengingat sayembara gending kreasi baru yang diadakan oleh Java-Instuut di tahun 30an dibatalkan oleh karena gending-gending terdaftar masih sangat kelihatan merujuk gending-gending sebelumnya. Oleh karenanya, meskipun tampak optimis, Wasisto juga memberikan catatan bahwa keberadaan teknologi baru ini belum tentu menjadi jalan pintas dalam konteks pembaruan gending gamelan. Keberadaan teknologi ini hanya menambahkan pilihan metode saja dan akan menjadi tantangan baru tersendiri untuk, tidak hanya merekonstruksi, bahkan menciptakan gending yang sama sekali baru darinya.


Sebagai bahan penerus linimasa metode gamelan dan teknologi di atas, JSI juga mengindeks artikel saduran dari laman wiki Lifepatch yang berjudul “Main Gamelan Sendiri Dengan Gameltron” oleh Jimmy S. Harianto dari Harian Kompas.

Kurang lebih 10-15 tahun setelah sample-sample bunyi laras gamelan direkam dan dianalisis, perangkat keras bernama Gameltron akhirnya dipamerkan dan didemonstrasikan oleh Adhi Susanto pada Pekan Raya Jakarta tahun 1977. Berdasarkan kesaksian penulis, perangkat ini masih terlihat ‘kasar’ secara tampilan karena komponen elektronik seperti kabel warna-warni masih menyembul pada perangkat berbahan multiplex tersebut.

Seperti yang kita ketahui dari bagian sebelumnya, Adhi Susanto kerja bersama Wasisto Surjodiningrat untuk mencatat frekuensi nada dari masing-masing instrumen gamelan yang mereka rekam. Setiap hasil rekaman tersebut diteliti kembali menggunakan oscilloscope untuk kemudian dibuatkan rekaan bunyinya secara elektronis. Menurut keterangan Adhi Susanto, bunyi gamelan tiruan itu tidak lain adalah bunyi oscillator yang diredam. Misalnya adanya bunyi dengung panjang dari alat tersebut adalah hasil peredaman lebih lanjut sample bunyi bonang sehingga bunyinya akan mendekati bunyi gambang. Pada saat dipamerkan, Gameltron baru dapat memainkan lagu-lagu slendro pelog terbatas pada irama dua saja.

Menambahkan informasi analsisi gamelan dan komputer oleh Wasisto Surjodiningrat, dari kliping ini kita juga mendapatkan informasi bahwa Wasisto bekerja sama dengan Vijay K. Khandelwal (India) dan F. Soesianto untuk melakukan analisis terhadap patet gamelan melalui program komputer. Di dalam eksperimen ini, Wasisto dan timnya melakukan pencatatan ratusan gending ke dalam komputer. Catatan tersebut digunakan untuk misalnya mengetahui di mana letak jatuhnya gong dalam suatu patet. Pengujian lebih lanjutnya adalah dengan memberikan perintah kepada komputer untuk membuat gending dalam irama ladrang laras slendro patet 5 misalnya. Dari pengujian tersebut, komputer akan mengeluarkan gending sesuai perintah yang diberikan. Meskipun ada yang tidak enak didengar, gending yang diciptakan tidak pernah menyalahi standar penciptaan gending.

Proses pengindeksan ini juga menyertakan artikel daring dari DTETI FT UGM dan video wawancara mereka dengan Adhi Susanto.


Hal-hal di bagian ini seperti menjawab harapan dari beberapa tokoh yang disebutkan di dalam bagian sebelumnya, terutama terkait hasil dari perjumpaan gamelan dengan teknologi.

Lema pertama adalah buku berjudul “Fisika Bunyi Gamelan: Laras, Tuning dan Spektrum” karya Hanggar Budi Prasetya dari ISI Yogyakarta. Buku ini memuat kajian analisis potongan-potongan rekaman gending melalui pendekatan ilmu fisika. Salah satu temuan buktinya adalah bagaimana gong ageng dapat menghasilkan fenomena bunyi unik bernama baung atau pelayangan. Yaitu ketika bagian muka gong dapat menghasilkan bunyi dengan frekuensi fundamental, sedangkan bagian sisinya menghasilkan bunyi dengan frekuensi overtone (mendekati gembyang-nya). Penelitian ini juga membuktikan kehebatan pande gamelan yang mampu menciptakan instrumen dengan hasil bunyi tersebut melalui pendekatan rasa secara turun-temurun. Sebagai pendahulu, Adhi Susanto juga dilibatkan untuk mengisi bagian kata pengantar di bagian awal buku ini.

Apabila penelitian pada lema sebelumnya hampir menyerupai analisis yang dilakukan oleh Wasisto Surjodiningrat, lema selanjutnya memuat lanjutan proses pengembangan Gameltron oleh Addin Suwastono (Fakultas Teknik UGM) dan Gameltron 2.0 ciptaannya. Berbeda dengan Gameltron generasi pertama oleh Adhi Susanto yang dapat dimainkan dengan tuts, Gameltron 2.0 tetap mempertahankan bentuk gamelan sebagaimana aslinya. Jadi, Gameltron 2.0 ini cara memainkannya tetap dengan ditabuh dan dalam posisi duduk seperti pada gamelan asli. Hal ini ia ungkapkan karena ia merasa resah dengan inovasi gamelan elektronik lain yang bentuknya kemudian jauh melampaui bentuk gamelan asli. Gameltron 2.0 atau Gameltron EVO ini bisa diakses di lantai 2 Departemen Teknik Elektro dan Teknolgi Informasi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.


Tentu saja masih banyak lagi model pengembangan dalam ranah perjumpaan gamelan dengan teknologi baru. Untuk saat ini, JSI masih meletakkan lampu sorot pada beberapa metode yang berkaitan langsung dengan dokumen temuan sebelumnya. Dokumentasi metode ini masih akan terus dikembangkan sesuai dengan temuan baru dan jadwal publikasi lema arsip kami.

Jangan sungkan juga untuk terlibat dalam proses ini bersama kami melalui pilihan kontribusi di situs web JSI.


Rubrik Unjuk lema ditulis dan disusun oleh Hilman Fathoni


KONTRIBUSI

Situs ini dibangun dengan koleksi terbatas yang kami miliki. Kamu bisa menambahkan konten dengan mengisi formulir di bawah ini