Unjuk Lema: Edisi Seni Multimedia

Written in

by


Unjuk Lema adalah rubrik yang menghadirkan ringkasan informasi terkait lema-lema yang ada situs web Jogja Sonic Index.


Jika membicarakan kancah musik elektronik-eksperimental Yogyakarta, tentu Mencari Harmoni perlu disertakan di dalamnya. Acara ini digagas oleh Performance Fucktory dan pertama kali diadakan pada tahun 1999. Diniatkan sebagai acara berkala, seri pertama Mencari Harmoni diadakan di Lembaga Indonesia Prancis (kini IFI) selama 2 hari (7-8 Mei 1999). Sedangkan seri kedua perhelatan ini diadakan di Gedung Olah Raga Universitas Yogyakarta pada tahun 2000 dengan melibatkan Digital Bleed sebagai salah satu pengisi acara.

Pada tahun selanjutnya, Mencari Harmoni melanjutkan konsep acara mereka di bawah nama baru yaitu Parkinsound.

Arsip brosur acara ini merupakan sumbangan dari Danang Rusdyanto pada lokakarya kontribusi arsip yang kami adakan di rumah Lifepatch. Klik gambar untuk memperbesar.

Parkinsound adalah salah satu acara musik elektronik dalam format festival di Indonesia. Sebagai kelanjutan dari Mencari Harmoni, helatan pertama Parkinsound pada 5-6 Juli 2001 di Stadion Kridosono Yogyakarta diberi tajuk sebagai Parkinsound 3.

Seri pertama mereka melibatkan penampil dalam format solo maupun grup, mulai dari Mesin Jahat dan Calludra hingga Teknoshit dan Melancholic Bitch. Acara Parkinsound 4, dengan tajuk “Global Underground” kemudian diselenggarakan pada tahun 2004 di Pelataran Candi Prambanan.


Di sisi lain, Alia Swastika membagikan temuan fenomena terkait Performance Fucktory lewat artikel berjudul “Ketika Bunyi Menjadi Bentuk: Refleksi dan Catatan atas Genealogi Seni Bunyi dan Praktik Seni Lintas Disiplin di Yogyakarta Periode 1998 – 2004” yang turut kami indeks di sini.

Klik gambar di atas untuk memperbesar.

Dari artikel ini kita dapat mengetahui bahwa, sebagai sebuah kolektif, Performance Fucktory termasuk dalam gerakan seni bunyi dan praktik seni lintas disiplin di Yogyakarta pada rentang 1998 sampai 2004. Tidak berhenti pada Performance Fucktory, nama-nama lain seperti Geber Modus Operandi, Diary of the Lost, dan Garden of the Blind, juga dicatat sebagai penyumbang karya dan menjadi penanda penting gerakan seni lintas disiplin ini.

Temuan ini juga menunjukan bahwa format kekaryaan gerakan ini tidak dapat dipungkiri pengaruhnya terhadap gerakan serupa di kemudian hari, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Baik disadari maupun tidak.

Klik gambar di atas untuk memperbesar.


Kehadiran peristiwa-peristiwa ‘seni’ di atas mengisyaratkan istilah “Sound Performance” atau Pertunjukan Bunyi di kemudian hari. Potongan fenomena di kancah seni kontemporer ini, tentu tidak luput dari proses pengarsipan oleh Indonesian Visual Art Archive (IVAA).

Sebagai lembaga arsip seni, selain mencatat keberadaan karya jenis ini, IVAA kemudian juga mengadakan pemutaran dokumentasi karya dalam program bertajuk Movie on 10. Berdasarkan arsip sumbangan Danang Rusdyanto, dapat kita ketahui bahwa setidaknya program Movie on 10 dengan topik terkait hal ini telah terjadi sebanyak dua kali.

Klik gambar di atas untuk memperbesar.

Movie on 10 dengan topik Multimedia diselenggarakan pada bulan Januari 2006, memutarkan karya-karya dari Performance Fucktory, Garden of the Blind, Geber Modus Operandi, Vincensius Kristiawan, dan Black Ribbon.

Program Movie on 10 selanjutnya dihelat pada November 2006 dengan konten pemutaran dokumentasi karya dari Black Ribbon, sesi “Sound Performance” Festival Kesenian Yogyakarta 2005, dan karya oleh Vincensius Kristiawan.


Dari berbagai acara, aktivitas kolektif, dan publikasi yang ada di atas, terdapat beberapa nama projek atau orang yang disebutkan secara berulang. Misalnya Garden of the Blind yang beranggotakan Agustinus ‘Jompet ‘ Kuswidananto dan Vincensius ‘Venzha’ Kristiawan. Selain memiliki kekaryaan secara kolektif di bawah nama tersebut, masing-masing orang ini kemudian membuat projek turunan, yang bisa dibilang ranahnya berada di luar kancah seni kontemporer.

Ketika Venzha memproduksi karya secara mandiri, ia menggunakan nama Electrocore. Sedangkan Jompet bergerak bersama Ishari Sahida dalam sebuah projek power noise/industrial dengan nama SKM.

Dari tahap pengindeksan infromasi kami saat ini, arsip rekaman suara kedua projek ini bisa diakses di album kompilasi berjudul Pekak: Indonesian Noise 1995​-​2015 – 20 Years Of Experimental Music From Indonesia.


Apakah hal-hal yang sebelumnya dilakukan oleh Performance Fucktory, Geber Modus Operandi, Diary of the Lost dan Vincensius Kristiawan menjadi inspirasi bagi Black Ribbon yang datang setelahnya?

Hubungan sebab akibat langsung antara acara-projek-genre-kolektif yang muncul pada sebelum ini masih menjadi pertanyaan besar bagi kami. Selain kemunculan mereka secara bersamaan dalam program Movie On 10 oleh IVAA, dapatkah, misalnya: keterlibatan Ishari Sahida di arsip terbitan mandiri Kompirasi Vol. 1 menjadi satu indikasi penjawab pertanyaan tersebut?

Kompirasi adalah terbitan mandiri yang digawangi oleh Soni Irawan, Aji Wartono, Rully Shabara, (alm.) Bagus Wiratomo, Ojie Adriyanto, Uji Handoko, Wedhar Riyadi, Eko Didik Sukowati, Krisna Widiathama, Prayogo Satrio Utomo, dan Ishari Sahida. Terbitan ini bisa diklaim sebagai salah satu katalis yang menyimpan rapi narasi identitas dari berbagai projek musik eksperimental dan/atau noise yang muncul hampir bersamaan. Jika tadi kita mencari hubungan sebab akibat, dengan menilik arsip terbitan ini kita bisa melihat hubungan saling menginspirasi antara projek musik yang muncul dalam satu gelombang ini. Hubungan saling menginspirasi ini tentunya bisa dilihat dari setiap artikel wawancara yang menjadi sajian utama di dalam Kompirasi.

Projek-projek pengusung genre noise dan/atau eksperimental yang ada di dalam zine ini antara lain adalah Belajar Membunuh, Prodjek Babi No. 9, Melcyd, Zoo, dan Black Ribbon. Selain artikel wawancara, terbitan ini juga hadir dengan album kompilasi dari masing-masing projek tersebut, termasuk projek pionir surf rock di skena lokal, Southern Beach Terror. Beberapa rekaman audio dari projek musik noise dan/atau eksperimental yang disebutkan di sini, juga bisa Anda dengarkan di kompilasi Pekak: Indonesian Noise 1995​-​2015 – 20 Years Of Experimental Music From Indonesia di atas.

Projek-projek musik tersebut ada yang masih aktif hingga saat ini, ada yang layu kemudian berkembang menjadi projek lain, dan ada juga yang gugur sama sekali.

Selain menemukan bukti interaksi erat lintas generasi berupa terbitan mandiri kolektif berjudul Kompirasi, bukti keeratan tersebut juga dapat diselami dengan melalui estetika bunyi.


Rubrik Unjuk lema ditulis dan disusun oleh Hilman Fathoni


KONTRIBUSI

Situs ini dibangun dengan koleksi terbatas yang kami miliki. Kamu bisa menambahkan konten dengan mengisi formulir di bawah ini