Unjuk Lema: Edisi Gamelan Jawa (Bagian 3)

Written in

by


Unjuk Lema adalah rubrik yang menghadirkan ringkasan informasi terkait lema-lema yang ada situs web Jogja Sonic Index.


Semangat kebebasan dalam mengeksplorasi musik selalu melaju seiring atau bahkan melampaui ruang dan waktu.

Dalam tajuk Unjuk Lema kali ini, kami ingin terlebih dahulu memberikan lampu sorot pada beberapa lema penampang semangat kebebasan yang dimiliki oleh sosok seperti mbah Sapto Raharjo.


HONF Lab sebagai kolektif yang bergerak di seni media telah secara rutin mengadakan festival dengan tema itu sejak tahun 2007 melalui perhelatan bertajuk Cellsbutton. Pada tahun 2009, di edisinya yang ketiga, Cellsbutton memasukkan sesi khusus untuk mengenang sosok Sapto Raharjo yang berpulang di tahun yang sama. Sesi ini melibatkan Desiree Aditya, Marcello Vishnoe, DJ Bintang, Irene Agrivina, Tengal Drillon, Julian Abraham, Kano So, Alex Schaub, Marc Dusseiller, Marko Batista, Terror Incognita, Rene T. A. Lysloff, Vincencius Christiawan, Andreas Siagian, dan midiJunkie (Ishari Sahida, anak Sapto Raharjo) dalam satu pertunjukan yang memadukan musik elektronik-eksperimental dan elemen visual yang kaya.


Lema selanjutnya berasal dari publikasi Majalah Gadis No.3, 27 Desember 1979 – 9 Januari 1980 dengan tajuk “Pembawa Gamelan Disko Dari Yogya: Slendro’s.” Artikel sumbangan Bona Zustama ini memuat liputan profil dengan momentum konser grup musik gamelan-disko bernama Slendro’s dari Yogyakarta yang diundang oleh Lembaga Humor Indonesia Pusat untuk tampil di Taman Ismail Marzuki pada bulan September tahun 1979. Bagi Noor Walyuli Ariyanto (pemimpin grup musik ini), gamelan merupakan jenis musik yang kaya dan tidak memiliki batasan dan keharusan untuk dikembangkan seperti apapun. Ia mengakui banyak terpengaruh oleh pemikiran Bagong Kussudiarjo, Ki Nartosabdo, Guruh Sukarno Putra, hingga Harry Roesli. Baginya mereka berani untuk mengajak orang-orang untuk bergerak ke depan demi kemajuan dan menabrak hal-hal yang mapan.


Sandikala Ensemble, lema sorotan akhir, adalah sebuah ansambel musik yang berbasis di Yogyakarta. Mereka bereksperimen melalui teknik dan instrumen gamelan baru dengan tujuan memperluas cakrawala musik gamelan kontemporer. Berdiri pada Februari 2021, ansambel ini diinisiasi oleh Dion Nataraja (composer) dan Yusti Paradigma (gamelan-performer).

Melihat tahun pendirian dan konsistensi ansambel ini, menggiring kami pada harapan bahwa masa depan pendekatan terhadap, lagi-lagi, rimba kompleksitas gamelan masih akan terus bergulir ke arah yang tidak terduga.. dan membawa kita ulang-alik untuk juga terus menelusuri segala ‘misteri’ terkait dengannya yang menunggu untuk kita temukan…


Pada penutup Unjuk Lema musim eksplorasi terhadap musik gamelan ini, Jogja Sonic Index (JSI) juga hendak merefleksikan satu-dua hal tentang bagaimana JSI merasakan dan memaknai musik eksperimental dalam proses pencatatan JSI.

Menurut hemat JSI, pemaknaan terhadap musik jenis ini harus dilakukan secara radikal dan ulang-alik.

Sekali lagi, musik eksperimental titik beratnya ada pada proses penciptaan alih-alih hasil ciptaan. Sesederhana apapun kelihatannya proses terjadi dalam penciptaan, ia selalu layak untuk dimaknai sebagai perubahan (baca: inovasi). Dengan begitu, JSI rasa spektrum pengkategorisasian akan menjadi lebih lentur. Bahkan, kelenturan harus menjadi syarat sah dalam proses pencatatan JSI. Karena kelenturan akan membawa JSI ke dalam pemaknaan ulang-alik yang radikal, dalam artian: mengakar.

Hal ini menjadi rujukan berpikir yang penting ketika JSI dihadapkan pada aktivitas eksplorasi terhadap jenis musik yang memiliki ikatan kuat pada tradisi. Karena, ia rentan dicap sebagai ‘musik fusion’ lalu ditinggalkan dari proses pencatatan. Dengan merujuk pernyataan di atas, JSI tidak akan ragu lagi untuk melakukan uji coba pencatatan terhadap musik ini. Terutama untuk musik gamelan di pulau Jawa, khususnya di Jogja.

Gamelan, sedari awal kemunculannya di pulau Jawa, konsisten menjadi ‘alat’ inkulturasi dan akulturasi. Konteks politik identitas selalu melebur sebagai hal yang tak terpisahkan dengan tiap pendekatan pendengaran dan pembunyiannya. Oleh karena itu, sebagai penutup musim, JSI menyoroti paling tidak dua aktivitas yang dapat kami akses dan catat arsipnya, yaitu Kiai Kanjeng (1993) dan Ansambel Gamelan dan Paduan Suara Paroki Pugeran (1968).

Bagi kami, projek dan metode ini dapat menjadi contoh terbaik dalam proses penggalian dan pembelajaran musik eksperimental Jogja secara holistik. Di dalam karya-karya mereka, salah satu jenis musik paling tua di Jawa ini hadir sebagai rujukan utama pada konteks eksplorasi bunyi dan/atau musik yang mereka lakukan. Bunyi dan/atau musik juga hadir sebagai ‘alat’ utama dalam konteks pengkomunikasian pesan ‘perubahan’ untuk dirasakan oleh masyarakat luas.

Hal ini kemudian juga menjadi poin utama karena ia menjadi paradoks terhadap posisi klandestin (bawah tanah) yang selama ini dipercaya sebagai syarat sah musik eksperimental.

Ya, kalau ia bisa menjadi populer, kenapa tidak?

Sekilas hal ini juga mengingatkan kami pada grup musik Zoo (kini berganti nama menjadi Wusa) yang hingga saat ini konsisten membawa tema-tema ‘original’ mereka, terutama sistem kepercayaan yang mereka hadirkan lewat Khawagaka. Dimulai dari didengarkan oleh sedikit pasang telinga hingga banyak. Sama halnya dengan Wusa, Kiai Kanjeng dan Ansambel Gamelan dan Paduan Suara Paroki Pugeran masih ada dan terus aktif menyuarakan proses sekaligus hasil eksplorasi terhadap bunyi yang kuat ikatannya dengan tradisi, hingga saat ini.


JSI terbuka untuk menerima kontribusi dalam bentuk apapun. Termasuk dan tidak terbatas pada: saran, kritik, dan koreksi terhadap pemaknaan yang ada di refleksi penutup musim ini. Karena proses pencatatan JSI selanjutnya akan terus dilakukan dengan merujuk pada kerangka berpikir ini.

Karena… eksperimentasi dimulai dari spekulasi terhadap berbagai kemungkinan, bukan?

Hasilnya sementara, prosesnya yang abadi.

Sampai berjumpa di musim selanjutnya.


Rubrik Unjuk lema ditulis dan disusun oleh Hilman Fathoni


KONTRIBUSI

Situs ini dibangun dengan koleksi terbatas yang kami miliki. Kamu bisa menambahkan konten dengan mengisi formulir di bawah ini