Pengalaman Menonton Senyawa: Kadang Tenang, Lebih Sering Mencekam

Written in

by


Subjek Terkait


Format


Konten

Teks oleh Sudut Kantin Project

Hari itu (04/03/2020), hujan nyaris tak berhenti dari siang hingga malam. Saya pun terpaksa menembus hujan untuk datang ke acara musik Senyawa yang berlangsung di Sakatembi, Jl. Parangtritis km 8,5, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Ketika sampai di area parkir, hujan sama sekali belum reda, namun para penggemar Senyawa sudah terlihat ramai di bagian pendopo. Sungguh seperti tak ada hari esok untuk menyaksikan penampilan Senyawa.

Beberapa hari sebelumnya, saya sudah membeli tiket pre-sale seharga Rp80.000,- dengan fasilitas mendapatkan sajian makan malam berupa nasi goreng Tiwul dan ikan bakar, jamu, serta tembakau untuk dilinting menjadi rokok. Oleh karena saya belum pernah menonton konser musik dengan hidangan semacam ini, maka seusai menghisap tembakau yang sudah disediakan di meja, saya tertarik menuju ke bagian dapur untuk mengambil hidangan makan malam dan jamu.

Tepat pukul 20.30 WIB, lampu pendopo dipadamkan, yang tersisa hanyalah lampu neon panggung dan suara seseorang yang berteriak mengajak penonton untuk merapat ke bagian tengah pendopo. Perlahan terdengar bebunyian dan dengung dari pengeras suara. Penonton pun mulai bergerak mengambil tempat mengelilingi Senyawa. Ya, Senyawa; Rully Shabara dan Wukir Suryadi, kini telah berada tepat di tengah pendopo dan penonton mengelilinginya persis seperti sebuah arena.

Asal anda tahu, menyaksikan band asal Yogyakarta ini tak seperti menyaksikan band-band pada umumnya. Sebab, paling-paling kita hanya bisa merapal kecil (atau merapal dalam hati!) penggalan-penggalan lirik yang dirapalkan Rully. Lirik lagu-lagu Senyawa dilantunkan oleh Rully dengan eksplorasi ucapan dan bahasa tradisional sehingga menghasilkan nada yang khas.

Selanjutnya, mungkin kita hanya bisa menganggukkan kepala ke atas dan ke bawah sesuai irama instrumen yang dimainkan Wukir. Di luar itu semua, beruntungnya kita disuguhkan permainan musik dan aksi panggung yang hampir-hampir tak bisa didapatkan dari band lain.

Gerakan tangan dan tubuh Rully perlahan menari kecil dengan melankolis, namun pada waktu yang bersamaan mampu menjadi begitu garang dan ekspresif. Wukir memainkan gitar rakitan yang dipetik atau digesek dengan bow biola.

Malam itu, tepat di sebelah Wukir terdapat alat musik rakitan yang entah apa namanya, namun jelas alat itu menghasilkan bunyi semacam perkusi maupun dentuman. Jangan heran jika mendengar bunyi dengusan, pekikan, lirih, bahkan suara petikan dan dentuman perkusi dalam waktu yang bersamaan.

Rully dan Wukir memainkan perannya masing-masing. Mereka membalut suara-suara dengan efek suara noise, distorsi, perkusi, dan semacamnya sehingga aksi panggung yang tenang menjadi mencekam dan sebaliknya. Mereka benar-benar telah bersenyawa dengan suara-suara itu dan menjadi satu.

Sampai pada lagu terakhir, Rully melepaskan jas hitamnya dan Wukir yang sedari tadi duduk, kini mulai berdiri. Beberapa penonton yang duduk juga kini serempak berdiri dan merapatkan barisan ke arah Senyawa.

Sembilan puluh menit sudah Senyawa menghangatkan Sakatembi dengan alunan musik dan lagu tambahan di luar set-list. Selain Senyawa dan penggemarnya, hujan di jalan Parangtiritis menjadi saksi berakhirnya rangkaian tur Senyawa Nusantara Chapter 1 yang sebelumnya berlangsung di Pontianak, Makassar, dan Denpasar.

Saya merasa sangat beruntung bisa menyaksikan penampilan Senyawa, meskipun di perjalanan pulang, sepatu saya berubah menjadi tampungan air karena hujan semakin deras. Tak apa, yang penting kaset tape Senyawa berjudul Sujud (2018) tetap aman di dalam tas.


Tahun


Pengampu Publikasi


Bahasa


Penerbit


Tempat Penerbitan


Pranala


Media


Kontribusi oleh Arlingga Hari Nugroho pada lokakarya penataan arsip Jogja Sonic Index, 2-3 Februari 2023, di Rumah Lifepatch.


KONTRIBUSI

Situs ini dibangun dengan koleksi terbatas yang kami miliki. Kamu bisa menambahkan konten dengan mengisi formulir di bawah ini