Unjuk Lema adalah rubrik yang menghadirkan ringkasan informasi terkait lema-lema yang ada situs web Jogja Sonic Index.
Semangat pengambilan langkah ulang-alik depan-belakang terhadap gamelan seolah tidak pernah berhenti.
Langkah-langkah Adhi Susanto, Wasisto Surjodiningrat, dan yang saat ini hendak kita gali bersama: Sapto Raharjo, seolah ditempuh secara beriringan.


Dalam proses penggalian langkah-langkah Sapto Raharjo, kami sangat terbantu oleh kedisiplinan beliau dalam mengarsip segala aktivitasnya. Hal itu tercermin jelas ketika kami berupaya menuntaskan buku “Mendaki Samudera Bunyi: 50 Tahun Sapto Raharjo Beresonansi.” Karena, melalui buku ini kami merasa bisa dengan sungguh-sungguh menjelajahi semesta pemikiran dan praktik beliau dengan runut, atau dalam kata lain: kronologis. Hal ini amat membantu ketika kami hendak menurunkan memori-memori tersebut dalam satu bentuk lema indeks yang serupa format dokumentasi kearsipan.

Dari serentetan informasi ini kami mengerti bahwa keberanian beliau untuk mendedikasikan diri mendaki rimba pendekatan ‘alternatif’ terhadap gamelan yang serba kompleks, tidak akan terbantahkan. 10 tahun setelah menempuh pembelajaran struktur gending gamelan di “Arena Budhaya”, bersama rekan-rekannya di PADS Group beliau mulai bereksperimen untuk mempertemukan elemen pentatonik gamelan dengan unsur diatonis dari musik folk (tercatat di Majalah TOP edisi 9 tahun 1975). Di saat yang hampir bersamaan, Sapto juga berfokus merancang dan menampilkan musik kaleng di Yogyakarta dan Surabaya. Proses musik kaleng kemudian dapat dikatakan mencapai puncaknya ketika ditampilkan secara improvisasi dan direkam dalam program “Apakah Musik Indonesia Itu?” oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI) pada tahun 1976.
PADS Group adalah grup musik yang dibentuk Sapto Raharjo pada tangga 24 Agustus 1973 (sesuai dengan hari saat mereka pertama kali pentas). Merujuk otobiografi Sapto Raharjo, grup musik ini digagas dengan landasan kejenuhan. Kejenuhan ini muncul karena aktivitas musikal yang ia tempuh di jalur band, tingkat kepuasannya berbanding terbalik dengan ketika beliau bermain gamelan. Dari titik jenuh itu ia mencanangkan ide untuk memadukan unsur pentatonis gamelan dengan elemen diatonis di grup musik bergenre folk ini. Setelah pentas pertama kali di acara Parade Folk Song di SMA Negeri 1 Yogyakarta, grup musik yang beranggotakan sesama siswa SMA Negeri 3 Yogyakarta ini kemudian banyak menerima ‘job‘ pentas di kampus-kampus dan juga di televisi. Salah satu lagu, dari 15 lagu gubahan mereka, yang paling kontekstual adalah “Es Lilin.” Lagu ini merupakan tembang gubahan lagu tradisional Sunda dengan judul sama yang diubah liriknya untuk menyesuaikan suasana protes larangan terhadap rambut gondrong yang terjadi di masa itu.
Setelah mendapatkan akses dan banyak berproses dengan instrumen elektronik berbasis sintesis selama kurang lebih 10 tahun, Sapto kemudian bereksperimen melalui karya bertajuk “Gamelan Meets Synthesizer Art Rock” bersama DAMPITT Group.

DAMPITT Group adalah grup musik yang terbentuk dalam tempo singkat untuk menampilkan komposisi musik dalam pertunjukan “Gamelan Meets Synthesizer Art Rock.” Sebelum tampil, grup musik ini mengalami proses penjajakan dengan melibatkan civitas Sekolah Menengah Karawitan Yogyakarta dengan tembang-tembang uji coba seperti Esuk-esuk, Sore-sore, dan Kangen. Komposisi ‘percobaan’ ini kemudian pertama kali (1986) ditampilkan di Gedung Purna Budaya, Yogyakarta, dan menjadi salah satu titik temu Sapto Raharjo dengan Wasisto Surjodiningrat. Pentas “Gamelan Meets Synthesizer Art Rock” kemudian juga diadakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dengan bantuan Dinas Kebudayaan DKI, Dewan Kesenian Jakarta, dan Persatuan Organisasi Kesenian Jawa (POKJ).
Selama proses pementasan, beliau juga banyak dibantu oleh Sawung Jabo, Suzan Piper, dan teman-teman dari grup Sirkus Barock. Saat ‘menumpang’ tinggal di markas mereka di Salihara, Sapto juga sempat duduk bersama dengan Iwan Fals, Innisisri, dan Remy Sylado. Pasca pementasan di TIM, Jakarta, sesi diskusi juga digelar dengan melibatkan Frans Haryadi, perwakilan dari Persatuan Organisasi Kesenian Jawa, dan Harry Roesli.
Pada 1988, beliau terlibat sebagai pengampu program “Apresiasi Musik” di Geronimo FM dan di tahun berikutnya sempat menyiarkan program bertajuk “Musik Garda Depan 4 Negara” di radio tersebut. Di sana, beliau juga mengakses perangkat lunak komputer untuk penciptaan musik sekaligus yang dipadukan dengan keyboard Rolland S-50 sebagai alat digital sampling. Pada tahun 1991 dan 1992, setelah melakukan panggung penjajakan di Yogyakarta pada 1990, ia menampilkan beberapa komposisi ‘digital sound experimental’ yang juga diciptakan dengan metode ini di Yogyakarta dan Jakarta.
Satu catatan besar yang juga terjadi pada 1992 adalah ketika Sapto Raharjo tuntas menampilkan komposisi berjudul “WIN” selama 3 hari tanpa henti di Yogyakarta. Pasca penampilannya, Franki Raden menjadi orang pertama yang menyebut beliau sebagai salah satu dari komposer ‘garda depan’ melalui ulasannya di koran Kompas. Pada tahun 1993, beliau bersama Harry Roesli, Ben Pasaribu dan Franki Raden menampilkan komposisi berjudul “Musik Untuk Generasi Masa Depan.” Hal-hal ini seolah telah diafirmasi oleh Sapto lewat keterangannya di Majalah Hai tahun 1991, bahwa beliau, Harry Roesli, dan Slamet Abdul Sjukur sama-sama memikirkan masa depan musik.

Diantara banyak catatan penting perjalanan Sapto Raharjo, kami kemudian menyoroti peristiwa yang terjadi pada tahun 1996 dan 2004. Pada 1996, seolah melakukan estafet Adhi Susanto, Wasisto Surjodiningrat, dan P.J. Sudharjana, beliau mengambil contoh bunyi dari 2 gamelan milik Kraton Yogyakarta yaitu Kanjeng Kyai Kebo Ganggang dan Kanjeng Kyai Guntur Laut. Hasilnya kemudian ditampilkan sebagai komposisi musik berbasis digital sampling beriringan dengan suara pidato Sri Sultan Hamengkubuwono X di Gelar Budaya Rakyat pada tahun yang sama. Setahun sebelum buku otobiografinya terbit, Sapto Raharjo mempersembahkan satu komposisi musik elektronik untuk memperingati usia 100 tahun maestro gamelan bernama Ki Wasitodipuro.
Masih banyak lagi catatan penting terkait ulang-alik praktik Sapto Raharjo dalam rimba kompleksitas gamelan, pembentukan Komunitas Gayam 16 dan prakarsa Yogyakarta Gamelan Festival misalnya, yang juga bisa Anda telusur lebih lanjut di sini.
Selama proses penggalian Sapto Raharjo sebagai bagian dari lema praktisi di Jogja Sonic Index (JSI), sebagaimana tertaut pada bagian sebelumnya, kami menjumpai sejumlah publikasi selain buku otobiografinya.
Artikel berjudul “Spirit Independen Sapto Raharjo” adalah karya tulis Risky Tjokrosonto yang diterbitkan pada tahun 2009 melalui Dynamic Aural Bliss Magazine untuk mengenang sosok Sapto Raharjo yang berpulang 2 bulan sebelumnya. Pada tulisan ini, Risky mendefinisikan kata kontemporer dalam konteks Sapto Raharjo sebagai seniman musik yang tak hanya berhenti menyikapi gamelan seperti pada pakemnya saja, melainkan juga relevansinya pada masa modern. Risky juga menilai bahwa semangat beliau layak untuk dirujuk oleh musisi independen. Karena, bagi Sapto Raharjo musik juga berdiri sebagai media bahasa dan medan intelektual yang artinya tidak berhenti pada titik puas dan selalu merujuk pada kreativitas gagasan. “Semangat Mbah Sapto sebenarnya tidak jauh dari spirit independen yang bebas namun bertanggung jawab atas musik yang diciptakan, termasuk bagaimana mewacanakan itu, dan bagaimana mendapat apresiasi yang sebenarnya”, kenang Risky di artikel tersebut.


Artikel selanjutnya berjudul “Musik Sebagai Pilihan Hidup” oleh Abi yang dimuat di Majalah Hai 12-19 Februari 1991 sumbangan Bona Zustama. Pada artikel ini, label Sapto yang eksis sebagai musisi musik eksperimental digaungkan berkali-kali. Misalnya pada bagian pembuka, disebutkan bahwa di tengah perkembangan musik yang saat itu sarat menjadi komoditas, ia tetap kukuh dengan musik eksperimental karena ia memikirkan masa depan musik sepuluh sampai dua puluh tahun kemudian. Di artikel ini ia juga disejajarkan dengan musisi ‘eksperimental’ lain seperti Harry Roesli dan Slamet Abdul Sjukur. Sapto Raharjo di sini sepakat dengan anggapan tersebut, yaitu bahwa mereka semua sama-sama memikirkan masa depan musik, hanya latar belakang belakang kebudayaan mereka saja yang berbeda.
Rubrik Unjuk lema ditulis dan disusun oleh Hilman Fathoni

