Subjek Terkait
Format
Takarir
Teks oleh Kompasiana
Prolog: Pertemuan Pertama dengan Nada
Saya pertama kali bertemu Royke Bobby Koapaha di Yogyakarta, di sebuah ruang kursus gitar klasik yang sederhana namun penuh energi. Di sana, nada-nada pertama yang saya pelajari bukan hanya bunyi dari senar, tapi juga potongan-potongan filosofi yang ia selipkan di antara koreksi teknik tangan. Beliau tidak pernah sekadar mengajarkan posisi jari atau ritme; ia mengajarkan cara mendengar musik seperti mendengar napas kehidupan.
Pertemuan itu berlanjut ketika saya menjadi mahasiswa beliau di ISI Yogyakarta, mempelajari musikologi dan komposisi di bawah bimbingannya. Di kelas, beliau seperti seorang penjelajah yang membuka peta dunia musik, menghubungkan abad ke-16 Renaisans dengan bunyi-bunyi tanah kelahiran kami. Ia menuntun dengan sabar, menguji dengan pertanyaan, dan selalu mengajak untuk mencari makna di balik bunyi.
Setelah lulus, hubungan itu tidak berhenti. Kami tetap bersinergi, menghidupkan kegiatan workshop, konser, dan seminar—bahkan di Aceh, kota kelahiran saya—membawa ide-ide dan semangat yang beliau tanam di Yogyakarta ke tanah sendiri. Hingga sekarang, saya tetap memuliakannya sebagai guru, sahabat intelektual, dan pendamping kematangan musikal saya—dan mungkin juga bagi siapa saja yang pernah disentuh oleh ketulusan dan keluasan wawasan beliau.
Sosok di Persimpangan Dunia
Royke Bobby Koapaha adalah figur yang berdiri di simpang jalan antara tradisi dan modernitas, antara disiplin akademik dan kebebasan kreatif, antara etos Barat yang sistematis dan kearifan lokal yang penuh intuisi. Ia bukan hanya pengajar di Prodi Penciptaan Musik ISI Yogyakarta, tapi juga penjelajah lintas kampus, menjadi pengajar di Sekolah Pascasarjana UGM dan ISI Padang Panjang.
Di kelasnya, Royke sering memulai pembahasan dengan pisau bedah analisis—ia menyebutnya wilayah etik, sebuah perangkat logis yang banyak ia pinjam dari metode Barat. Tetapi, ia tak pernah membiarkan pisau itu mengiris habis ruh lokalitas. “Pisau itu hanya alat,” katanya, “tugas kita adalah mengungkap nilai, bukan menggantinya.”
Pandangan ini bukan teori kosong. Ia tumbuh dari perjalanan panjang, dari arena festival gitar klasik yang ia menangi di tingkat nasional dan Asia Tenggara, hingga panggung-panggung kolaborasi lintas genre—dari musik klasik, jazz, progressive rock, sampai musik film. Pengalaman itu membuatnya akrab dengan bahasa universal musik, namun tetap mengakar pada kesadaran bahwa bunyi memiliki rumah dan sejarahnya sendiri.
Royke mengajarkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan yang dibanggakan di upacara, melainkan medan hidup yang terus diuji oleh zaman. Ia kerap menantang kami, para mahasiswanya: “Seberapa jauh kamu benar-benar mengenal musik tanahmu? Apakah hanya namanya, atau sampai struktur dan maknanya?” Pertanyaan itu menuntut kami untuk tidak puas menjadi penghafal, tetapi penggali.
Persimpangan dunia itu ia jalani tanpa rasa minder terhadap capaian Barat, tetapi juga tanpa sikap taklid. Ia meminjam teknologi, teori, dan perangkat analisis dari luar, namun selalu mengembalikannya pada konteks kita. Bagi beliau, inilah jalan agar kita tidak kalah dalam teknik dan logika, tapi juga tidak kehilangan jiwa.
Nada Pikiran dan Irama Teladan
Hubungan saya dengan Royke Bobby Koapaha tidak berhenti di ruang kuliah. Sejak pertemuan pertama di kursus gitar klasik di Yogyakarta, beliau menjadi figur yang tidak hanya membimbing teknik, tetapi membentuk cara berpikir musikal saya.
Ketika saya melanjutkan studi di ISI Yogyakarta, beliau menjadi dosen pendamping dalam mata kuliah musikologi dan komposisi. Dalam setiap bimbingan, ia tak pernah memberi jawaban instan; sebaliknya, ia mengarahkan saya untuk meraba, mencoba, dan membuktikan. “Musik itu bukan soal hafal, tapi soal menemukan,” ucapnya.
Setelah saya lulus dan kembali ke Aceh, hubungan itu tidak pernah putus. Kami terus bersinergi dalam berbagai kegiatan-workshop, konser, dan seminar—salah satunya di Aceh, kota kelahiran saya. Di forum-forum itu, Royke bukan sekadar pembicara; ia hadir sebagai pendengar yang sabar, memberi ruang bagi musisi dan seniman lokal untuk menafsirkan diri mereka sendiri.
Di Aceh, saya menyaksikan bagaimana ia memadukan kedalaman akademik dengan empati kultural. Ia tidak menggurui, melainkan menyalakan percakapan. Ketika membahas kearifan lokal, ia mengaitkannya dengan pertanyaan-pertanyaan kritis: Apakah kita tahu benar makna di balik ritme rapa’i atau melodi didong? Apakah perubahan yang kita lihat hari ini merusak atau justru memperkaya?
Bagi saya, inilah warisan intelektual Royke Bobby Koapaha: kemampuan menjembatani dunia analisis yang ketat dengan dunia pengalaman yang cair. Ia membuktikan bahwa seorang pendidik bukan hanya pengajar, tetapi rekan perjalanan yang menemani kita menuju kematangan.
Hingga kini, saya tetap memuliakannya sebagai guru sekaligus pendamping musikal—bukan hanya bagi saya, tetapi juga bagi siapa pun yang pernah disentuh oleh ketulusannya. Ia adalah bukti bahwa kompetensi sejati lahir dari pertemuan antara pengetahuan yang luas, keterampilan yang terasah, dan kerendahan hati untuk terus belajar dari siapa saja.
Filsafat Kompetensi dan Kearifan Lokal
Bagi Royke Bobby Koapaha, kompetensi bukanlah sekadar penguasaan teknis yang diukur lewat sertifikat atau standar formal. Ia kerap mengingatkan bahwa validitas gelar tidak selalu berbanding lurus dengan reliabilitas kemampuan di lapangan. “Bisa saja seseorang sah disebut sarjana musik, tapi kalau tak mampu membuat orang mendengarkan atau merasakan, ada yang hilang di situ,” katanya suatu ketika.
Dalam banyak diskusi, ia memisahkan dua ranah yang saling melengkapi: etik dan emis. Etik, menurutnya, adalah “pisau bedah” pengetahuan—metode, teori, dan teknik yang sering kali kita pinjam dari tradisi Barat untuk mengurai fenomena seni. Emis adalah wilayah pemaknaan—ruang rasa, nilai, dan kearifan lokal yang hidup dalam komunitas. Pisau bedah Barat itu penting, tetapi tidak boleh menguasai meja operasi; ia hanyalah alat bantu untuk menyingkap apa yang kemudian harus dimaknai dengan bahasa dan logika lokal.
Royke selalu menolak dikotomi kaku antara “Barat” dan “lokal”. Baginya, modernitas bukan ancaman mutlak, melainkan medan tanding yang menuntut kecerdikan. “Kalau kita tak mau pakai teknologi atau teori dari luar, kita akan kalah di teknik. Tapi kalau semua dibungkus logika luar, kita kehilangan jiwa,” ucapnya. Ia mendorong para murid untuk berani menguasai perangkat analisis Barat sembari tetap berpijak pada akar kultural sendiri.
Dalam lokakarya di Aceh, saya melihat filosofi ini bekerja. Ia membedah struktur musik rapa’i dengan terminologi musikologi internasional—tempo, dinamika, kontrapung—tetapi segera mengembalikannya pada konteks ritual dan makna sosialnya. Ia memancing peserta untuk mengingat filosofi di balik ketukan, tidak hanya menirukan bentuk.
Inilah filsafat Royke: kompetensi sejati lahir dari perpaduan kemampuan teknis yang dapat diuji (reliable) dan kesadaran kultural yang tak tergantikan (meaningful). Seni, baginya, adalah dialog antara dua dunia—dunia rasio yang membedah, dan dunia rasa yang memaknai.
Resonansi Abadi
Bagi banyak orang, Royke Bobby Koapaha adalah nama besar di ruang akademik musik Indonesia. Bagi saya, ia adalah guru yang membentuk keberanian saya melihat musik lebih luas daripada sekadar bunyi indah. Ia memandu saya mengenali musik sebagai pengetahuan, sebagai cara membaca dunia, dan sebagai alat untuk merawat kebudayaan.Pengaruh Royke tidak hanya mengalir lewat karya atau konsernya, melainkan lewat interaksi keseharian. Ia jarang memberi “jawaban jadi” kepada murid. Sebaliknya, ia menantang kami dengan pertanyaan yang membuat kepala panas—kadang bahkan pertanyaan yang terasa seperti jebakan. Ia percaya bahwa proses berpikir yang kritis dan mandiri lebih berharga daripada sekadar menghafal teori.
Di ISI Yogyakarta, ia menjadi salah satu pengajar yang memadukan disiplin dan kebebasan. Disiplin dalam penguasaan teknik dan konsep, kebebasan dalam mencari arah estetik. Muridnya belajar membedakan mana yang prinsipil dan mana yang konvensi yang bisa dilanggar. Ia memberi ruang bagi eksplorasi, bahkan ketika hasilnya mentah, karena baginya setiap karya adalah jejak proses belajar.
Warisan terbesarnya mungkin bukan pada satu karya monumental atau satu teori besar, melainkan pada ekosistem berpikir yang ia tanamkan: ekosistem di mana musisi tidak hanya tampil, tapi juga memahami; tidak hanya memahami, tapi juga mempertanyakan; tidak hanya mempertanyakan, tapi juga menghidupkan kembali pengetahuan yang sudah ada dengan semangat baru.
Di Aceh, ketika ia datang dalam workshop, konser, dan seminar, saya melihat murid-murid muda terinspirasi bukan hanya oleh kemampuan teknisnya, tetapi juga oleh keberaniannya menyatukan rasionalitas dan kearifan lokal. Ia menjadi teladan bahwa musik dapat menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Hingga kini, saya tetap memuliakannya sebagai guru sekaligus sahabat perjalanan musikal. Ia mengajarkan bahwa menjadi musisi berarti menjadi pembelajar seumur hidup—dan bahwa dalam setiap bunyi yang kita mainkan, ada sejarah, ada nilai, dan ada tanggung jawab untuk menjaganya.
Epilog: Senar yang Terus Bergetar
Ada guru yang mengajar dengan kata-kata, ada pula yang mengajar dengan diamnya. Royke Bobby Koapaha mengajar dengan keduanya—dengan bunyi yang lahir dari gitar, dengan jeda yang mengundang pikiran, dengan sorot mata yang mempersilakan muridnya mencari jalannya sendiri.
Bagi saya, ia bukan hanya pengajar teknik atau teori musik. Ia adalah penjaga api rasa ingin tahu, yang meniup bara ketika saya hampir padam. Ia menegur ketika saya tergesa, tetapi juga membiarkan saya jatuh agar tahu bagaimana caranya bangkit.
Kini, setiap kali saya memegang gitar atau menulis nada, saya tahu ada sebagian jejaknya di sana. Jejak yang bukan sekadar “cara bermain” atau “cara menulis musik”, melainkan cara memandang hidup: bahwa setiap nada punya sejarah, setiap harmoni punya dialog, dan setiap bunyi adalah pertemuan antara logika dan jiwa.
Guru seperti dia tidak pernah benar-benar pergi. Mereka tinggal di resonansi yang kita bawa ke mana pun—di panggung konser, di ruang kelas, di tengah percakapan tentang budaya, atau di kesunyian kamar kerja. Senar-senar itu akan terus bergetar, selama kita berani menjaga gema yang diwariskannya.
Salam sehat selalu Mas Roy!
Tahun
Penulis
Bahasa
Penerbit
Tempat Penerbitan
Pranala
Media


