Metode Sariswara (3 Bagian)

Written in

by


Subjek Terkait


Format


Takarir

Teks oleh Laboratorium Sariswara

Bagian #1

Metode Pendidikan gagasan Ki Hadjar Dewantara untuk Implementasi Pendidikan Berbasis Kebudayaan Khas Yogyakarta

Definisi Metode Sariswara yg singkat berupa “sastra sinawung ing kidung”, sebuah cara penyampaian bahasa yang mengandung unsur keindahan dan makna yang dalam sehingga mampu mempengaruhi jiwa seseorang. Cara mempengaruhinya diserta “kidung” atau dilagukan agar mampu menyentuh tidak hanya melalui fisik mulut yang mengucapkan lirik saja, namun juga diikuti indra pendengaran, dan melatih reflek otak untuk berpikir akan maknanya dalam sebuah tempo cepat (kecepatan berpikir/menghapal sekaligus memaknai). Dilengkapi sekaligus “olah-rasa” yang ditandai dengan upaya pikiran seseorang untuk mensinkronkan antara ucapan dengan irama lagu/tembang bisa diikuti dengan iringan musik/gamelan, ditambah dengan gerakan/permainan tertentu yang mendorong “passion” / minat kesenangan orang akan sebuah permainan yang menarik hati. Metode ini akan sempurna bila pelaksanaannya dibalut sebuah cerita yang berisi nilai-nilai kebenaran, kepatutan, kepahlawanan & kebangsaan.

Berkesan panjang definisi ini, namun Ki Hadjar Dewantara dalam Buku (I) Pendidikan di halaman 355 meringkasnya dalam sebuah kutipan; bahwa metode sariswara ini pendeknya adalah “sastera-gendhing” kepada anak-anak.

Kita ketahui “Sastra Gendhing” merupakan buah pikiran karya Sultan Agung Hanyakrakusuma, berisi ajaran moral, religius, seni filsafat dan ajaran keselarasan lahir bathin dan awal akhir penciptaan manusia (Purwadi.2005:3), utamanya pendidikan untuk orang dewasa dalam laku kehidupan sehari-hari sebagai orang jawa. Hebatnya itu semua disusun dalam sebuah karya sastra sekar/tembang macapat berseri.
Dari karya Sultan Agung inilah Ki Hadjar Dewantara menggagas sebuah karya baru “Sastera Gendhing” khusus yang isinya fokus kepada pembentukan watak karakter di usia anak-anak, yang juga sama-sama disusun dengan model penciptaan tembang/lagu, dan disebut oleh beliau sebagaa “Metode Sariswara”.


Bagian #2

Benang Merah Sariswara & Metode Sariswara

Kita runut jauh ke belakang di tahun 1913, saat Ki Hadjar Dewantara yang masih bernama RM. Soewardi Soerjaningrat, ketika beliau berangkat ke negeri pembuangan, Belanda, akibat tulisan keras beliau “Als Ik En Nederlander Was” yang menyindir pemerintahan kolonial saat itu. Dalam perjalanan ke negeri Belanda, beliau ditemani istrinya RA. Soetartinah. Ketika kapal sedang berlabuh teringat bahwa pada hari itu adalah hari kelahiran istri tercinta. Karena masih di kapal dan tidak mempersiapkan hadiah khusus, maka beliau menghadiahi sang istri dengan sebuah tembang “Kinanti Sandung”. Sebuah tembang karya Mangkoenegoro IV yang bermakna kecintaan mendalam kepada pujaan hatinya.

Liriknya menggambarkan keindahan dunia seisinya yang begitu elok namun tak ada satupun yang mampu mengalahkan keindahan pujaan hatinya. Makna lirik tembang ini bisa juga dikaitkan sebagai kerinduan akan tanah airnya serta penggambaran bahwa keaslian keindahan budaya negeri sendiri mampu sejajar dengan budaya negeri lain. Begitu berkesan makna tembang ini sehingga pada tahun 1916, di kota Den Hag, RM. Soewardi dibantu teman-temannya membuat pertunjukan pentas “Kinanthie Sandoong”. Hebatnya tembang ini dilagukan tidak dengan iringan gamelan, namun dengan iringan piano. RM Soewardi yang sangat cerdas mampu menyerap ilmu notasi balok dengan sempurna, bahkan membuat konversi notasi gamelan ke notasi balok/piano. Inilah, bisa dikatakan pertama kalinya di luar negeri/eropa, seorang jawa/Indonesia menggubah dan mementaskan tembang jawa yang aslinya diiringi gamelan menjadi sebuah lagu dengan iringan piano, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Cara mengkonversi nada gamelan ke nada piano inilah yang oleh RM Soewardi (yang kemudian berubah menjadi Ki Hadjar Dewantara) diberi nama “Sariswara”. Kelak Sariswara ini dibukukan dan dijual bukunya serta royaltinya mampu untuk membeli mobil Chevrolet dan juga tanah/rumah (di jalan Tamansiswa 25).

Ketika mendirikan perguruan Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara (KHD) menekankan pentingnya seorang anak memiliki kecintaan akan budaya asli milik sendiri. Saat beliau dibuang ke Belanda melihat dan mempelajari berbagai teori pendidikan yang sedang berkembang saat itu di eropa serta membandingkan dengan cara-cara mendidik rakyat tradisional di negeri sendiri. Dan dengan jeli beliau melihat bahwa teori-teori pendidikan di eropa itu ternyata sudah dipraktekkan di kalangan rakyat di nusantara, khususnya di adat kebudayaan jawa. Bahkan menurut beliau lebih lengkap milik kita. Maka sangat penting anak di usia awal diberi landasan watak dengan dididik sesuai dengan budaya lokal yang paling dekat dengan jiwanya (teori global-methode). Hal ini sangat penting agar ketika anak dewasa tidak tercerabut dari akar budaya bangsanya sendiri sehingga justru menjadi musuh bagi kita.
Untuk itulah KHD menggagas sebuah cara mendidik anak  dengan hal yang paling dekat dengan kebudayaan, yaitu “kesenian”. Kesenian dimanfaatkan oleh beliau untuk membentuk watak-watak luhur, dari natur (watak alamiah bawaan lahir) ke kultur (watak isian budaya luhur), membiasakan seluruh indra anak dengan pembiasaan segala bentuk keindahan. Maka dipahat jelas di anak tangga Pendapa Tamansiswa sebuah candrasengkala tahun pendirian “Amboeka Raras Angesti Widji” bermakna ringkas kesenian pepucuk/melandasi pendidikan. Beliau meyakini kesenian mampu secara utuh mendidik cipta-rasa-karsa anak. Karena secara menyeluruh melatih semua indra-indranya hingga ke “olah-rasa”. Setelah melalui perenungan & penggalian berbagai teori – praktek pendidikan yang panjang sejak di Belanda hingga beliau mendirikan Perguruan Tamansiswa, yang menandai perubahan perjuangan beliau dari politik ke ranah pendidikan, maka muncullah “Metode Sariswara”. Sebuah cara yang tidak hanya berupa konversi angka notasi tembang jawa, tetapi sebuah cara mendidik anak dengan penggabungan pendidikan bahasa/sastra, lagu dan cerita (KHD; Buku Pendidikan; Hal 357)

Jadi memang berbeda “Sariswara” sebagai cara mengkonversi notasi angka gamelan ke notasi balok (pentatonis ke diatonis) dengan “Metode Sariswara” sebagai cara mendidik watak seorang anak. Namun keduanya memiliki keterkaitan erat sejak KHD dibuang ke negeri Belanda hingga mendirikan Perguruan Tamansiswa.


Bagian #3

Metode Sariswara Sebagai Praktek Dasar Meraih Cita-Cita Persatuan Kebudayaan

Sebelum kita membahas bagaimana praktek penerapan Metode Sariswara dalam pendidikan, kita harus melihat sebuah cita-cita besar KHD yang terkait erat dengan kemerdekaan hakiki sebuah bangsa.

“Perkataan bangsa tidak hanya mengandung arti kemerdekaan negara, tetapi juga kemerdekaan kebudayaan. Kesatuan bangsa mengharuskan adanya kesatuan kebudayaan. Kalau kita rakyat Indonesia berani mengakui segala puncak-puncak kebudayaan di seluruh kepulauan Indonesia sebagai kebudayaan kita bersama, sebagai kebudayaan bangsa maka pada saat inipun kita sudah merupakan bangsa.” (Ki Hadjar Dewantara; Buku I Pendidikan Hal. 264)

Menjadi perbincangan bahkan pertentangan beberapa kalangan budayawan tentang makna kesatuan kebudayaan. Namun kita tidak akan membicarakan pertentangan itu. Yang harus kita terjemahkan bahwa upaya kesatuan kebudayaan ini disadari benar oleh KHD tingkat kesulitannya. Bangsa Indonesia yang saat ini terdiri dari 300 kelompok etnis dengan 1.340 suku bangsa (BPS tahun 2010) memiliki beragam kebudayaan yang beragam. Seakan sebuah usaha rumit dalam menyatukan kebudayaan sekian ribu itu. Namun ditegaskan di kalimat di atas, kalau kita berani mengakui segala puncak-puncak kebudayaan di seluruh kepulauan Indonesia sebagai kebudayaan kita bersama, itulah kesatuan kebudayaan. Kerumitannya adalah persatuan rasa nasionalisme yang diibaratkan sebuah keluarga besar dengan beragam watak namun merasa satu sumber sebagai keluarga. Hal ini juga ditekankan lagi okeh KHD akan perlunya pendidikan menyerap kebudayaan lokal sekitar anak-anak didiknya, yang bertujuan agar mereka kelak dewasa tidak tercerabut dari akar budaya asli suku-suku bangsanya.

Kesatuan kebudayaan bukan menjadikan sebuah keluarga memiliki watak yang sama dan seragam, namun mengarah ke sebuah rasa penghargaan dan kesadaran menerima perbedaan watak yang merupakan kodrat masing-masing anggota keluarga yang tidak bisa dihindari. Bukankah ini sangat terkait erat dengan fenomena watak masyarakat bangsa kita saat ini? Melupakan bahwa sebagai bangsa kita adalah sebuah keluarga besar dengan berbagai kodrat perbedaan yang tak terhindarkan? Maka jelas sangat jauh ke depan pandangan seorang KHD dalam usahanya mewujudkan persatuan rasa sekaligus persatuan pengakuan terhadap segala puncak kebudayaan masing-masing suku bangsa di nusantara ini. Bagaimana mewujudkan itu semua? Di sinilah peran pendidikan sebenarnya.

Maka dalam tulisannya yang lain, KHD menjelaskan :

“Perguruan/sekolah adalah tempat persemaian untuk memelihara dan memajukan kebudayaan bangsa.” (Ki Hadjar Dewantara; Buku I Pendidikan Hal. 264)

Jelas ditegaskan oleh KHD bahwa sekolah menjadi tempat untuk mengupayakan berbagai cara agar anak yang kelak menjadi generasi utama pembangun dan pemilik negeri ini harus memiliki kebudayaan luhur yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Dan melalui pengalaman KHD selama pembuangan di negeri Belanda 1913-1919, beliau mempelajari hampir semua teori pendidikan di sana (Frobel, Montessori, Dalcroze, Rudolf Steiner, hingga Rabindranath Tagore), beliau menyimpulkan bahwa dengan memanfaatkan kesenian adalah cara yang paling dekat untuk digunakan sebagai metode mendidik yang mampu mewujudkan keluhuran kebudayaan.

“Kesenian adalah hal yang paling dekat dengan kebudayaan yang mampu mengolah cipta-rasa-karsa secara lengkap. Kesenian di dalam pendidikan dimaksudkan untuk mempengaruhi perkembangan jiwa anak kita ke arah keindahan di dalam rangkaiannya dengan keluhuran dan kehalusan, hingga layak bagi hidup manusia yang beradab dan berbudaya.” (Ki Hadjar Dewantara; Buku I Pendidikan Hal. 355)

Posisi kesenian yang sangat istimewa sebagai cara mendidik karakter anak, ditegaskan oleh KHD dengan memahatkan candrasengkala tahun dibangunnya Pendapa Tamansiswa. Di anak tangga depan pendapa terpahat tulisan “Amboeka Raras Angesti Widji”Amboeka raras dimaknai oleh KHD berasal dari ambuka membuka, raras suara, bermakna membuka suara, nembang atau menyanyi. Menyanyi atau nembang dianggap mewakili kata “kesenian”. Sedangkan angesti widji diartikan pepucuk atau landasan pendidikan.

“… adanya hubungan kesenian dengan pendidikan dan bahwa kedudukan kesenian di dalam Tamansiswa memang istimewa. Kita memulai pendidikan kita dengan mengutamakan pelajaran kesenian …” (Ki Hadjar Dewantara; Buku I Pendidikan Hal. 355)

Keistimewaan posisi kesenian yang kemudian diterjemahkan dalam prakteknya dengan “Metode Sariswara” seakan oleh KHD ditujukan sebagai cara-cara kesenian menyemai keluhuran kebudayaan di sekolah/paguron. Maka terlihat bahwa kerja Metode Sariswara merupakan kerja yang paling mendasar yang dilakukan oleh kesenian dalam mendidik karakter luhur anak sesuai adat budaya lokal.

Sekarang kita mencoba membuat sebuah simulasi dengan menempatkan Metode Sariswara ini dilakukan di pulau Jawa dengan kebudayaannya. Bayangkan bila itu kemudian dilakukan pula di pulau-pulau lainnya yang mewakili pulau besar suku-suku bangsa di nusantara. Ada metode sariswara Jawa, metode sariswara Sumatera, metode Sariswara Kalimantan, metode sariswara Maluku, metode sariswara Bali-Lombok, juga metode sariswara di Papua. Masing-masing metode sariswara ini akan memberi landasan karakter luhur di tiap suku bangsa. Secara menyeluruh keragaman watak-watak luhur anak bangsa yang tersebar di seluruh Indonesia ini secara disengaja, melalui metode sariswara, dijadikan bibit terbaik dari nilai-nilai terluhur dari puncak-puncak sari kebudayaan nusantara.

Dari simulasi itu akan terlihat gambaran sebuah sistem yang utuh, dari awal dibuatnya konsep dilanjutkan praktek dengan proses-proses yang digagas sekaligus dilakukan secara implementatif oleh KHD.

Namun beliau wafat sebelum dimunculkan implentasi metode sariswara di luar pulau Jawa. Sehingga cita-cita persatuan kebudayaan belum terwujud. Inilah pekerjaan kita bersama, melanjutkan warisan kerja Ki Hadjar Dewantara yang belum usai, berjuang menjadikan negeri ini sebagai bangsa yang utuh.


Tahun


Penulis


Bahasa


Penerbit


Tempat Penerbitan


Pranala


Media


KONTRIBUSI

Situs ini dibangun dengan koleksi terbatas yang kami miliki. Kamu bisa menambahkan konten dengan mengisi formulir di bawah ini