Senyawa Musik Bambu Wukir

Written in

by


Subjek Terkait


Format


Takarir

Teks oleh Arief Koes

Senapan panah alias crossbow itu bukan sekadar senjata. Senar-senar yang terentang di alat itu rupanya bisa dipetik dan menghasilkan bunyi bak gitar listrik yang meraung-raung. Di samping crossbow itu ada tiga instalasi seni yang sudah dianggap bekas oleh artisnya. Ketiganya juga disulap menjadi alat musik.

Pertama berupa helm robot persegi. Jika dicolek bagian palet besi yang membentuk alis dan kumis robot ini menghasilkan nada-nada ritmis. Sedangkan pegas yang mencuat dari mata dan mulut robot menimbulkan efek bunyi getar.

Di sampingnya instalasi berbentuk kerucut merah yang ditambahkan pipa pralon sehingga menjelma alat musik tiup semacam sangkakala. Ada pula karya instalasi patung figuratif yang diberi tambahan senar dan kulit sehingga menyerupai harpa sekaligus kendang.

Bukan hanya dipertontonkan dalam pameran seni Biennale Jogja XVIII 2015, sejumlah instrumen musik inovatif bertajuk Hacking Artworks itu juga berfungsi layaknya alat musik dan dimainkan untuk mengiringi pentas musik. “Sesuai tema saya meng-hack (meretas) karya seni dan memberinya sumber bunyi,” kata kreator sejumlah instrumen tersebut, Wukir Suryadi.

Wukir seniman sekaligus musisi yang menciptakan berbagai instrumen musik alternatif itu. Yang paling terkenal dan menjadi cirikhasnya saban tampil adalah alat musik dari bambu yang diberi nama sesuai namanya, Bambu Wukir.

Adapun karya Hacking Artworks hasil kerjasamanya dengan sejumlah seniman dan kelompok seni. Selama  pameran di Jogja National Museum, 1 November -10 Desember, itu, Wukir ditemani istrinya, Stufvani Gendis Gula Jawa, menyilakan pengunjung memainkan sejumlah instrumen musik unik tersebut.

Wukir semula aktif di teater, seperti di Teater Idiot, Malang, Teater Ragil, Solo, juga Bengkel Teater dan Teater Tetas di Jakarta. Ia menjadi penata musik dan menyusun ilustrasi bunyi untuk pementasan. Berkecimpung dengan berbagai bunyi-bunyian yang memberi efek dramatis, ia terdorong membuat instrumen bunyi yang khas.

Instrumen ini berupa sebilah bambu sepanjang sekitar 120 centimeter dan berdiamater 10 centimeter. Wukir menggunakan jenis bambu hitam. Pemanfaatan bahan alam ini menjadikannya mirip alat musik tradisional sasando dan celempung. Dari bambu tersebut, ia menyerutnya hingga terbentuk delapan dawai dari kulit bambu untuk melengkapi 11 senar string utama. Bagian tengahnya dilengkapi lubang resonator.

Bambu wukir dapat dipetik dan digesek. Jika digesek dengan bow, bunyi yang muncul menjadikan ia mirip biola. Tapi jika sedang dipetik, alat musik ini bukan hanya bisa menjelma  instrumen tradisional macam siter dan kecapi, melainkan juga bak gitar listrik.

Untuk menghasilkan bunyi maksimal, bambu wukir bisa dihubungkan ke tiga amplifier. “Ide awal pembuatannya hasil dari respon lingkungan sekitar,” ujar Wukir, dalam kaos oblong dan wajah penuh kantuk,  di sela-sela Biennale Jogja, akhir November 2015.

Wukir menyebut, jenis alat musiknya pentatonik sekaligus diatonik, atau di luar aturan itu. Bambu Wukir tidak berpatokan pada satu laras dan mengubah tunning sesukanya. Wukir pernah menggunakan lima nada atau pentatonik, C-D-Des-F-G, kemudian diganti slendro atau pelog, lalu  G-A-B-C-D.

Sampai saat ini, hanya dirinya yang memproduksi dan memainkan alat itu. Tak berhenti pada bambu, Wukir terus berinovasi menciptakan instrumen baru dan terlibat dalam sejumlah pertunjukan seni.

Pada pembukaan pameran seni Art Jog 2015 di Yogyakarta misalnya, sambil megiringi performance art Melati Suryodarmo, Wukir menjadikan mesin ketik bak akordeon namun dengan nada-nada berbeda setiap menekan tuts-tuts alfabet. Wukir juga telah bekerjasama dengan seniman Arahmaiani, Leo Kristi, dan I Wayan Sadra.

“Pekerjaan saya membuat sumber bunyi. Mediumnya bisa macam-macam. Bambu bukan pertama dan terakhir. Dan semua instrumen harus bisa dimainkan.”

Dengan instrumen khasnya Wukir menelurkan beberapa album; “Yehezkiel”, “Untitled String”, dan “Atas Nama Bunyi”. Ia juga menggelar tur musik 18 kota “Ambience Experiment”, dengan lokasi pentas yang tak lazim, seperti di lokasi Lumpur Lapindo dan Rumah Sakit Jiwa Magelang.

Sejak 2010, bersama vokalis kelompok musik eksperimental asal Yogyakarta, Zoo, Rully Sabhara, Wukir membentuk “Senyawa”. Musik duo ini cenderung eksperimental dengan memadukan unsur tradisi dengan elemen musik punk, metal, dan avant garde.

Jika Wukir memainkan instrumen yang khas, Rully yang berangkat dari musik rock eksperimen menyumbang vokal dan lirik dari khazanah bahasa lokal, seperti Jawa, Bali, Sumatera, Sulawesi, hingga Tibet, Afrika, dan Amerika Selatan.

Diskografi Senyawa meliputi ‘Acaraki’, ‘Senyawa’, dan ‘Menjadi’. “Untuk mendefiniskkan musik saya biar masyarakat awam dan yang mendengarkan, fokus saya bagaimana memaksimalkan apa yang saya kerjakan,” kata Wukir tentang genre musik Senyawa.

Senyawa telah berkolaborasi dengan musisi dunia, seperti Yasuke Akai, Lucas Abela, Jon Sass, Damo Suzuki,  Jerome Cooper dan Charles Cohen. Tahun 2013-2014, bersama Kristi Monfries dan Joel Stern, mereka terlibat sebagai dalam proyek seni The Instrument Builders. Sebelumnya, pada 2012, mereka malah berkolaborasi dalam proyek film dengan sineas Perancis, Vincent Moon.

Duo ini pun lebih banyak manggung di mancanegara. Mulai dari Mona Foma Festival  dan Adelaide Festival di Australia, Glatt und Verkert Festival dan Krems City Festival di Austria. Senyawa juga manggung di Malmo Sommarscen Festival di Swedia, CTM Festival di Berlin, Jerman, Copenhagen Jazz Festival, Clandestino Festival di Norwegia,  Oct Loft Jazz Festival di China, dan tur pentas di Jepang.

Setelah setiap pekan tampil di pentas Biennale Jogja selama November, hingga akhir tahun ini Wukir dan Rully memenuhi undangan pentas di Portugal, Swiss, dan Jepang. “Di luar negeri kami sering masuk ke acara jazz, di sini malah nggak pernah,” ujar Wukir.

“Kalau hasilnya, saya serahkan menurut orang bagaimana. Saya tidak mau dikotak-kotakkan di musik kontempoer, jazz, atau rock.”


Tahun


Penulis


Bahasa


Penerbit


Tempat Penerbitan


Pranala


Media


KONTRIBUSI

Situs ini dibangun dengan koleksi terbatas yang kami miliki. Kamu bisa menambahkan konten dengan mengisi formulir di bawah ini