Pada 17 Mei 2026, Jogja Sonic Index (JSI) diajak terlibat sebagai salah satu pengisi sesi temu wicara dalam rangkaian acara ReadTheFuckingManual (RTFM) oleh Gaung yang bertempat di rumah Komunitas Gayam 16, Yogyakarta.
Selama kurang lebih 120 menit, JSI memaparkan berbagai temuan data dari proses “gresak-gresek” (baca: memulung) yang mereka jalankan sejak pertama kali resmi beroperasi pada November 2023.
Untuk sesi RTFM, JSI diwakili oleh Hilman Fathoni sebagai juru bicara (dengan bantuan Adi Kusuma sebagai moderator) yang memaparkan presentasi dengan tajuk “Temu Dengar: Sensus Bunyi JSI“*
Kami menyadari bahwa durasi 120 menit pun tidak cukup untuk menyampaikan temuan-temuan JSI secara utuh, oleh karena itu, berikut ini adalah rangkuman tekstual serta catatan tambahan beserta koreksi (anotasi) dari sesi RTFM JSI yang kami hadirkan untuk menghadirkan rasa utuh yang belum sepenuhnya muncul dalam ruang temporal tersebut.**
Meskipun rangkaian teks ini juga masih belum bisa mewakili keseluruhan temuan, kami berharap hal ini menjadi dokumentasi yang bermanfaat dalam konteks pembacaan arsip-arsip terindeks sebagai lema di situs web JSI.
Pun di sini kami bermaksud memohon maaf karena hampir seluruh contoh yang muncul di sini masih didonimasi oleh laki-laki, semoga di masa depan kami bisa membuat ruang publikasi yang lebih imbang.
Selamat membaca.
*Keseluruhan data yang dipaparkan pada sesi ini berasal dari proses penyusunan yang terakhir kali diperbarui pada 11 Mei 2026.
**Satu salindia terkait perkenalan JSI sebagai sebuah organisasi tidak kami sertakan karena sudah kami singgung di kalimat kedua pada teks di atas.

Jogja Sonic Index (Jogja Sonic Index) adalah sebuah ruang pengarsipan yang proses kerjanya tidak terikat pada rentang waktu.
Artinya, JSI melakukan kerja arsip dari hulu ke hilir terhadap objek-objek arsip yang berasal dari kapan pun: baik ia berasal dari 100 tahun lalu maupun dari masa kini. Arsip-arsip tersebut JSI kumpulkan, tata dan olah ulang sebagai publikasi dalam wujud basis data yang hanya terikat pada 3 kata kunci:
Jogja, Musik, Eksperimental, dan Elektronik.

Per 11 Mei 2026, JSI telah mempublikasikan 643 lema di situs webnya.
Lema merupakan kata ganti dari utas (dikenal sebagai post dalam bahasa Inggris-RED) yang JSI gunakan merujuk pada praktik yang dilakukan oleh Wikipedia Bahasa Indonesia terhadap setiap utas di situs webnya.
Setiap lema yang dipublikasikan oleh JSI masing-masing memuat berbagai format arsip (teks, gambar, gambar bergerak dan format-format lain) dalam satu tempat. Untuk saat ini, setiap arsip yang termuat di dalam lema-lema tersebut dibagi menjadi 7 kategori yang tertera pada gambar. Setiap angka yang muncul di samping kategori menyatakan jumlah lema yang ada di bawah masing-masing kategori.
Definisi tiap kategori lema di atas dapat dibaca di laman Rujukan Jogja Sonic Index.

Sekali lagi, sebagai pengingat, setiap lema yang dipublikasikan oleh JSI memuat berbagai format arsip. Setiap arsip dalam tiap lema mengandung informasi yang kemudian disusun kembali oleh JSI sebagai sajian basis data.
Setiap sajian basis data, melahirkan kembali informasi-informasi kecil yang lagi-lagi harus disusun untuk memudahkan navigasi dan pembacaan para pengakses.
Oleh karena itu, JSI menyajikan informasi-informasi kecil tersebut pada satu bagan di laman rujukan dengan nama ‘Navigasi Tematis’.
Menu ini dapat diakses di laman Rujukan Jogja Sonic Index.
643 lema di situs web JSI meliputi beragam jenis arsip yang berasal dari berbagai masa.
Jika merujuk pada infografis di sebelah kiri, kita bisa melihat bahwa beberapa arsip tertua berasal dari tahun 1930.
Seperti yang disebut di paragraf sebelumnya, JSI turut memaknai berbagai hal yang lahir di masa sekarang sebagai arsip. Oleh karena itu, jika sekali lagi merujuk pada gambar ini, arsip terindeks oleh JSI yang paling baru berasal dari tahun 2025 (1 tahun yang lalu).
Di sini, JSI melakukan penghitungan jumlah lema berdasarkan arsip terindeks di situs web JSI.
Tabel di sebelah kanan menunjukan 10 besar keterangan tahun arsip berdasarkan 48 keterangan tahun arsip yang terindeks di situs web JSI (termasuk arsip tanpa informasi tahun yang ditandai dengan tanda ‘~’).
Berdasarkan tabel ini dapat diketahui bahwa berbagai jenis arsip terindeks di situs web JSI paling banyak berasal dari tahun 2014 dengan jumlah total 47 lema.
Arsip-arsip tanpa informasi tahun turut menempati posisi atas (termasuk sebagai 5 besar) dengan jumlah total 40 lema.
Sebagai pengingat, data ini terakhir kali diperbarui pada 11 Mei 2026.
| No | Tahun | Jumlah lema JSI |
|---|---|---|
| 1 | 2014 | 47 |
| 2 | 2009 | 44 |
| 3 | ~ | 40 |
| 4 | 2010 | 40 |
| 5 | 2016 | 32 |
| 6 | 2017 | 32 |
| 7 | 2018 | 30 |
| 8 | 2012 | 30 |
| 9 | 2015 | 30 |
| 10 | 2008 | 28 |
JSI juga memaknai aktivitasnya sebagai kerja sensus.
Sebagaimana sensus, proses pengumpulan arsip yang kemudian dipublikasikan di situs web JSI (termasuk data statistik-selain lema) bergulir tanpa mengenal rentang waktu. Kerja arsip ini dinamis, sehingga informasi hasil sensus selalu berubah berdasarkan arsip yang ditemukan.
Untuk menghindari inakurasi pada informasi hasil sensus, seluruh lema di situs web JSI dibuat merujuk pada informasi berbasis arsip.
Hal ini sebisa mungkin dilakukan secara ketat agar setiap lema ada berdasarkan sumber yang faktual.
JSI juga hendak menyatakan bahwa informasi hasil sensus dibuat bukan oleh seseorang yang memilliki latar belakang kemampuan analisis musikal dan historis yang mumpuni.

Setiap contoh yang disajikan secara semi acak dan manasuka ini dibuat oleh seorang pendengar sekaligus praktisi musik amatir yang juga melakukan praktik kerja arsip dan tata kelola informasi secara otodidak. JSI merasa pernyataan ini penting disampaikan untuk membuka segala kemungkinan kritik dan saran dari pihak-pihak yang lebih memahami kedua hal tersebut.
Seperti yang disampaikan sebelumnya, lema di situs web JSI paling banyak berasal dari tahun 2014. Hal ini terjadi dikarenakan data-data yang terkumpul pada masa awal pembentukan situs web JSI (tahun 2023) berasal dari ingatan masing-masing anggotanya.
Yaitu para praktisi, yang meskipun jarak generasinya saling berbeda, sama-sama intens berkiprah di ranah musik elektronik dan eksperimental pada dekade tersebut.
Pada masa pembentukan, JSI juga dibantu oleh para peserta lokakarya yang menyumbangkan arsip-arsip mereka untuk diolah kembali sebagai lema di situs web JSI.
Sempat terhenti pada awal 2024, informasi di situs web JSI kembali tumbuh berdasarkan diskursus ‘tongkrongan’ yang mengingatkan JSI untuk merujuk pada arsip-arsip yang telah dimiliki JSI.

Berdasarkan riwayat situs web JSI, arsip yang paling banyak diolah pada tahun tersebut adalah kliping-kliping dari majalah Dynamic Aural Bliss.
Di tahun selanjutnya, JSI mulai memahami langkah yang harus diambil ketika melakukan pelacakan koleksi terkait musik elektronik dan eksperimental dalam konteks Jogja. Proses ini banyak dibantu oleh rekan-rekan sejawat terdekat JSI yang terkumpul di Ruang Melamun.
Infografis ini dibuat berdasarkan 1729 data paket komposisi dari 210 pemusik dan/atau seniman bunyi dari Yogyakarta.
Selain untuk mempermudah, istilah paket komposisi digunakan untuk merepresentasikan karya dari para pemusik yang diterbitkan dalam berbagai format.
Termasuk di antaranya (namun tak terbatas pada) adalah rekaman audio, gambar bergerak sekaligus suara, notasi musik atau notasi bergambar, presentasi di ruang pertunjukan dan lain-lain.
Selain merujuk pada bagan diskografi pada tiap lema dari kategori projek, JSI juga merujuk berbagai terbitan ‘kanon’ seperti buku biografi Sapto Raharjo, karya disertasi Christopher J. Miller, makalah-makalah lepas dari tokoh seperti Franki Raden, Judith Becker dan Dieter Mack, kliping elektronik edisi lampau majalah Tempo serta publikasi-publikasi lainnya.
Selain menghasilkan data akumulatif, proses pengumpulan data ini juga melahirkan peta jumlah paket komposisi berdasarkan dekade publikasinya.
Seperti nampak pada tabel di sebelah kanan, kita bisa melihat bahwa paket komposisi tertua berasal dari dekade 1910an.
Termasuk di dalam data ini juga diketahui bahwa ada 29 paket komposisi tanpa informasi tahun dan produksi komposisi musik (terkait kata kunci elektronik dan eksperimental) paling banyak terjadi di dekade 2010an.
| No | Dekade | Jumlah paket komposisi |
|---|---|---|
| 1 | ~ | 29 |
| 2 | 1910an | 2 |
| 3 | 1950an | 2 |
| 4 | 1960an | 1 |
| 5 | 1970an | 56 |
| 6 | 1980an | 31 |
| 7 | 1990an | 49 |
| 8 | 2000an | 130 |
| 9 | 2010an | 879 |
| 10 | 2020an | 550 |
Untuk memberikan gambaran yang lebih menyeluruh, berikut turut JSI lampirkan daftar 10 besar paket komposisi berdasarkan dekade dan tahun terbitnya:
| No | Tahun | Dekade | Jumlah paket komposisi |
|---|---|---|---|
| 1 | 2018 | 2010an | 139 |
| 2 | 2024 | 2020an | 134 |
| 3 | 2013 | 2010an | 114 |
| 4 | 2020 | 2020an | 106 |
| 5 | 2014 | 2010an | 100 |
| 6 | 2016 | 2010an | 97 |
| 7 | 2017 | 2010an | 97 |
| 8 | 2023 | 2020an | 97 |
| 9 | 2025 | 2020an | 95 |
| 10 | 2015 | 2010an | 93 |
Beralih sejenak dari data terkait komposisi, JSI juga melakukan pemetaan terhadap 158 projek musik yang terindeks dalam kategori projek.
Istilah-istilah ‘musikal’ ini diterapkan berdasarkan rujukan kamus musik ringkas yang ditemukan secara daring.
Sehingga, perubahan bisa saja terjadi jika nanti ada istilah yang lebih cocok diterapkan pada lema projek tertentu.
Peta format projek musik ini bisa diakses sebagai bagian dari navigasi tematis di laman rujukan JSI.
Terlampir di sebelah kanan adalah rincian jumlah lema projek musik berdasarkan pemetaan formatnya.
Projek musik dengan format solo berada di urutan paling atas dibandingkan format lainnya dengan jumlah total sebanyak 75 projek musik.
Posisi selanjutnya diduduki oleh format band dengan jumlah total 38 projek musik.
Format duo menduduki posisi ketiga dengan jumlah total 20 projek musik.
Format mixed ensemble menyusul dengan jumlah sebanyak 11 projek musik – disusul lagi oleh format-format lain (DJ Set, Trio, Choir, Karaoke Unit dan Monophonic ensemble) yang secara unik memiliki jumlah lema yang sama yaitu 4 dan 2 projek musik.
| No | Format | Jumlah lema |
|---|---|---|
| 1 | Band | 38 |
| 2 | Choir | 2 |
| 3 | DJ Set | 4 |
| 4 | Duo | 20 |
| 5 | Karaoke Unit | 2 |
| 6 | Mixed ensemble | 11 |
| 7 | Monophonic ensemble | 2 |
| 8 | Solo | 75 |
| 9 | Trio | 4 |
Selain pemetaan format, 158 lema dari kategori projek musik juga dipetakan berdasarkan gaya musiknya.
JSI memilih untuk menggunakan istilah genre sebagai terminologi utama dalam konteks pemetaan ini.
Seperti disebutkan pada bagan glosarium di laman rujukan, JSI menerapkan pemetaan genre dengan menyematkan tanda genre tunggal, subgenre, dan/atau perjumpaan genre (dua genre atau lebih yang mengalami proses fusi) berdasarkan gaya musik yang paling mendominasi riwayat komposisi tiap projek musik.
| No | Genre | Jumlah projek |
|---|---|---|
| 1 | Drone | 25 |
| 2 | Harsh Noise | 24 |
| 3 | Free Improvisation | 20 |
| 4 | Ambient | 19 |
| 5 | Dark Ambient | 16 |
| 6 | Noise Rock | 12 |
| 7 | Spoken Word | 11 |
| 8 | Electro-industrial | 7 |
| 9 | Field Recordings | 7 |
| 10 | Comedy Music | 6 |
Kini, secara umum istilah genre sesungguhnya hampir menjadi sesuatu yang kehilangan relevansi. Apalagi dalam konteks projek musik elektronik dan eksperimental yang pendekatannya kerap ulang-alik dan multidimensional dari satu karya ke karya lainnya.
Oleh karena itu, JSI menekankan bahwa dalam kerja arsip dan sensus, istilah-istilah ini tetap digunakan untuk menghasilkan informasi turunan yang dapat digunakan sebagai media pembacaan ringkas untuk memahami satu fenomena.
Di sebelah kiri, dari total 95 peta genre, paling tidak bisa diidentifikasi bahwa 10 genre ini adalah genre yang kerap saling berkelindan ketika ditampilkan dalam satu pertunjukan atau diperdengarkan rekaman audionya. Keberadaan data ini juga bisa dikaitkan dengan dominasi jumlah format projek musik solo dan band yang tercatat sebagai format yang paling banyak digunakan oleh projek musik di situs web JSI.
Sebagai pengingat, data paket komposisi merupakan hasil kombinasi antara data diskografi dari tiap lema berkategori projek dengan setiap catatan riwayat penerbitan dan/atau presentasi musik dari lema-lema berkategori publikasi.
Jadi, tidak semua judul komposisi yang tercatat turut JSI miliki rerkaman audionya.
Namun, dalam konteks penceritaan kembali berbasis sensus bunyi di bagan selanjutnya, JSI akan mengkombinasikan tabel pengampu komposisi di sebelah kanan dengan rangkaian arsip komposisi yang tidak muncul di tabel ini.
Kembali pada ranah paket komposisi, terlihat di sebelah kanan adalah peta nama 210 pengampu komposisi berdasarkan 1729 judul paket komposisi yang terkumpul dari berbagai format arsip JSI.
| No | Pengampu | Paket komposisi | Tahun pendirian |
|---|---|---|---|
| 1 | To Die | 132 | 1998 |
| 2 | Bergegas Mati | 75 | 2012 |
| 3 | Sodadosa | 69 | 2004 |
| 4 | Rangga Purnama Aji | 66 | 2016 |
| 5 | Kiai Kanjeng | 62 | 1993 |
| 6 | PADS Group | 49 | 1973 |
| 7 | Concrete Crusher | 43 | 2017 |
| 8 | Sanjonas | 43 | 2012 |
| 9 | Sapto Raharjo | 43 | 1973 |
| 10 | Mahamboro | 41 | 2015 |
Berdasarkan diskusi dan penelusuran mandiri JSI, salah satu karya bunyi dan/atau musik dengan pendekatan ‘eksperimental’ dalam konteks Jogja adalah komposisi “Kinanthie Sandoong” oleh Ki Hadjar Dewantara.
Melalui artikel “Musical Modernism In The Twentieth Century“, Franki Raden berargumen bahwa Ki Hadjar Dewantara bertanggung jawab dalam kelahiran ‘musik seni’ Indonesia di abad 20 melalui karya ini. Dalam konteks Hindia-Belanda, karya ini memiliki estetika yang dianggap problematis.
Dalam karya yang pertama kali dimainkan di Den Haag pada 1916 ini, selain melakukan ‘menyetel’ ulang bunyi piano ke konteks pelog gamelan Jawa, Ki Hadjar menghilangkan kebiasaan penggunaan notasi musik (pada konteks penciptaan) serta memilih cengkok vokal wilet ketika dimainkan bersama seorang pesinden.
Selain berlawanan dengan konteks permainan gending gamelan formal di masa itu, karya ini juga dianggap problematis dari kaca mata barat.
Dalam artikel bertajuk “Future of Music” di majalah Wederopbouw seorang penulis anonim berujar bahwa, selain dianggap menghilangkan sisi ‘eksotis’ gending gamelan, ia sarat akan muatan politik identitas terhadap penguasa kolonial Hindia-Belanda di masa itu. Hal ini menjadi masuk akal. Karena, 3 tahun sebelumnya, Ki Hadjar Dewantara menerbitkan aritkel berjudul “Seandainya Aku Seorang Belanda” yang mengakibatkan pengasingannya (bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo) ke Belanda.
Versi rekaman tertua karya ini belum JSI temukan, namun di sini JSI sajikan versi paling representatif yang direkam pada tahun 2016 lalu.
Selamat mendengarkan.

Jika membicarakan sejarah ‘musik’ Jogja, terutama dalam konteks eksperimentasi, Gamelan Jawa memang akan mengambil porsi cukup banyak.
Nantinya teks ini akan pelan-pelan beralih ke ranah lain seiring semakin mendekatnya linimasa yang diceritakan dengan masa kini.
“Jaya Manggala Gita” diciptakan dan dimainkan pertama kali oleh Ki Cokrowarsito pada bulan Agustus 1952 untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Alih-alih menggunakan salah satu modus nada tunggal (slendro atau pelog), tembang berdurasi luar biasa panjang ini merupakan upaya menceritakan kembali sejarah Indonesia dari masa kerajaan Hindu-Buddha hingga masa kemerdekaannya.
Di sini, corak eksperimentasi pun sangat terlihat dipengaruhi oleh haluan politik yang beriringan dengan kemerdekaan bangsa Indonesia (nasionalis).
Sebagai tambahan, pada tahun 1958 Ki Cokrowarsito sempat melakukan perjalanan ke Rusia dan Eropa Timur. Perjalanan ini kemudian menjadi inspirasinya untuk menciptakan beberapa tembang, salah satunya adalah “Ketawang Basanta” – untuk vokal tiga suara yang saat itu dianggap sebagai sesuatu yang di luar kebiasaan karawitan formal.
Dalam artikel “Music and Politics: Ki Wasitodipuro as a Modern-Day Pujangga“, Judith Becker berargumen bahwa selain menjadi sosok nasionalis yang khatam dalam konteks tradisional, Ki Cokrowarsito memiliki cara berpikir komposer barat. Suatu etos untuk menciptakan karya yang selalu terasa asli, unik dan berkebaruan.
Satu catatan penambah konteks yang menarik adalah hubungan Ki Cokrowarsito dengan gurunya, Raden Mas Soerjo Poetro, yang pernah turut membantu Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa.
Soerjo Poetro, putra Paku Alam V sekaligus paman Dewantara, turut ambil andil secara serius dalam menciptakan kerangka ‘musik baru’ nasionalis. Selain pernah menciptakan rebab ‘modern’ untuk disejajarkan dengan perspektif klasik barat, di tahun yang sama dengan presentasi “Kinanthie Sandoong”, Soerjo Poetro menerbitkan satu komposisi untuk 1 vokalis dan 1 pemain biola berjudul “Rarjow Sarojo.” Konteks lebih panjang tentang sisi ‘luar biasa’ komposisi ini juga bisa ditemukan dalam teks “Musical Modernism In The Twentieth Century” oleh Franki Raden.

Pada dekade 1960an, tepatnya tahun 1968, seorang pencipta tembang Jawa R.C. Hardjasoebroto bersama Paduan Suara dan Ansambel Gamelan Gereja Hati Kudus Yesus Pugeran menerbitkan album musik berjudul “Missa Javanica”.
Melalui artikel berjudul “Romo Prier dalam Inkulturasi Musik Liturgi” oleh Pito Agus diceritakan bahwa niat penciptaan gending-gending bersyair Gregorian dengan iringan musik Gamelan Jawa pathet pelog ini sudah diungkapkan oleh Hardjasoebroto sejak tahun 1926. Di artikel yang sama, Karl-Edmund Prier berargumen bahwa Hardjasoebroto adalah tokoh penting dalam konteks inkulturasi musik, terutama musik liturgi.
Inkulturasi dalam hal ini dimaksudkan sebagai penciptaan “kreasi baru” yang lahir dari dua atau lebih kebudayaan tanpa menghilangkan nilai khasnya masing-masing.
Dalam hal ini, JSI juga ingin berargumen bahwa motif keimanan bisa menjadi salah satu corak ‘eksperimentasi’ musik dan menjadi pemicu kelahiran musik mutakhir pada zaman tertentu.

Satu tahun kemudian, Adhi Susanto, P.J. Sudarjana dan Wasisto Surjodiningrat menerbitkan laporan penelitian berdasarkan perekaman 37 gamelan Slendro dan 39 gamelan pelog dengan judul “Penjelidikan Dalam Pengukuran Nada Gamelan-Gamelan Djawa Terkemuka di Jogjakarta dan Surakarta” dengan bantuan Laboratorium Akustik Bagian Mesin – Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.
Pada tahun yang sama, Wasisto Surjodiningrat, menerbitkan artikel tentang spekulasi penciptaan gending gamelan Jawa berbasis komputer dengan tajuk “Gamelan Musik dan Komputer” melalui Majalah Pusara.
JSI bermaksud secara singkat memperlihatkan kedua arsip ini sebagai potret embrio yang disambut dengan praktik-praktik tangible di dekade selanjutnya.
Arsip ini juga JSI gunakan sebagai penanda sebagai titik resonansi awal eksperimentasi terhadap musik dengan corak klasik ke ranah elektronik.

Di titik ini, JSI ingin merujuk makalah berjudul “New Music Activity in Yogyakarta, Indonesia 2000–2020 (History and Network)” oleh Erie Setiawan untuk “menggelar peta” nama-nama pemusik dengan disiplin pendidikan musik (komponis) yang berinterkasi dengan dunia musik kontemporer barat: berdasarkan pertemuan mereka dengan Jack Body pada 1976.
Artikel ini mengungkap bahwa keberadaan gaya musik ini memang tidak didukung oleh pihak Akademi Musik Indonesia (AMI) Jogja. Bahkan kurikulum terkait musik kontemporer dihapus oleh Dekan yang masih menjabat pada tahun 1981.
Konsekuensi dari keputusan pihak sekolah itu adalah inisiatif Body untuk menyelenggarakan forum ‘di luar kelas’ yang melibatkan beberapa nama seperti Joseph Praba, Yoesbar Djaelani, Sutanto ‘mendut’, Chairul Slamet ‘memet’, Budi Ngurah, Royke B. Koapaha dan Michael Asmara.
Nama-nama di atas bisa pembaca klik dan ulik lebih lanjut di situs web JSI: nama-nama yang meninggalkan cukup banyak rekam jejak di ranah musik klasik-kontemporer dan sesungguhnya membutuhkan proses pendalaman panjang untuk masing-masing nama.
Beranjak satu tahun ke depan, embrio penyelidikan Adhi Susanto dan Wasisto Surjodiningrat terhadap gamelan berbuah hasil. Pada tahun 1977, Adhi Susanto memboyong instrumen musik berbasis penyintesis ciptaannya dengan nama ‘Gameltron’ ke Pekan Raya Jakarta.
Jimmy S. Harianto mendeskripsikan peristiwa ini melalui artikel “Main Gamelan Sendiri Dengan Gameltron.”
“Pengunjung selalu menghentikan langkah, lalu mencari sumber bunyi yang rada aneh. Bunyi-bunyian itu meniru kendang Jawa, ada juga semacam bonang yang dibunyikan satu-satu. Tetapi meskipun sangat mirip, masih terasa bahwa bunyi-bunyian itu adalah tiruan.“
Hal yang menarik dari kutipan deskripsi itu adalah bagaimana Adhi Susanto mendobrak cara memainkan gamelan dengan membawanya ke dalam konteks penyintesis (bentuk simulasi dari instrumen aslinya) dengan segala keterbatasan bahan di masa tersebut.


Di tahun yang sama, Wasisto Surjodiningrat menampilkan gending-gending gamelan Jawa kreasi barunya pada perhelatan Dies Natalis ke-27 Universitas Gajah Mada melalui konser berjudul “Eksperimen Simfoni Gamelan/Pergelaran Gending-Gending Komputer.”
Artikel bertajuk “Gending-Gending Komputer” oleh Majalah Tempo menyebutkan bahwa Wasisto telah menciptakan 414 buah gending dengan bantuan metode generatif di komputer.
Satu terminologi menarik yang muncul dari artikel ini adalah dengan penyebutan bahwa beberapa dari gending-gending yang tercipta ini dapat dikategorikan sebagai gending underground.
Upaya-upaya ini JSI konstruksikan sebagai dobrakan karena upaya simulasi ini sudah pasti menghasilkan bunyi-bunyi yang unik dan/atau berkarakter dengan segala ketidaksempurnaannya.
Hal ini juga JSI maksudkan sebagai pengingat bahwa eksperimentasi terhadap musik tidak melulu merujuk pada estetika bunyi paling akhir, namun juga pada tiap estetika bunyi yang muncul sebagai fenomena dalam proses pembentukannya.
Termasuk juga segala upaya yang dikerahkan untuk menciptakan instrumen penyuara bunyi-bunyi tersebut.
Sayangnya, rekaman bunyi dari kedua hasil eksperimentasi di atas belum bisa kita dengarkan bersama.

PADS Group adalah grup musik pertama Sapto Raharjo, seorang praktisi gamelan Jawa dari Yogyakarta, yang terbentuk sejak tahun 1973.
Setidaknya sejak tahun 1977 PADS Group mulai beralih dari musik folk tradisional ke ranah musik yang lebih eksperimental.
Salah satu upaya itu mereka lakukan melalui paket komposisi yang ditampilkan dengan nama “Yogyaharmonic Music.”
Sederhananya, Yogyaharmonic Music adalah bentuk interpretasi PADS Group tentang beragam suasana di kota Yogyakarta.
Satu pertunjukan PADS Group, yang rekaman suaranya dapat didengar pembaca di sini, merupakan salah satu komposisi dari upaya mereka untuk memanfaatkan perangkat penyintesis Rolland SH-2000 dalam konteks penciptaan musik suasana (teatrikal).
Rekaman suara ini berasal dari pertunjukan mereka pada perhelatan SMA III Yogyakarta (Padmanaba) yang liputannya juga tercatat dalam artikel bertajuk “Pads Group Kreasi Baru” oleh Ar’s Hari melalui Majalah Aktuil Edisi 232 tahun 1977.
Selain ditampilkan di Purna Budaya Yogyakarta, edisi Yogyaharmonic selanjutnya (Yogyaharmonic ’78), juga ditampilkan di Teater Arena Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Konser tunggal ini tercatat dalam artikel dari Majalah Tempo yang berjudul “Musik Kaleng Dari Mataram.”
Paket komposisi ini dideskripsikan sebagai komposisi musik yang terdengar aneh: “Seperti bunyi karawitan Jawa yang jalin-menjalin dengan nada-nada diatonis.” Dalam laporan ini juga disampaikan bahwa tiap kali komposisi akan dimainkan, salah seorang anggota PADS Group selalu menguraikan isi dan maksud dari komposisi tersebut, tak terkecuali komposisi “Pasarean Imogiri.”
Jika bisa digunakan sebagai pertanda, upaya PADS Group ini mungkin bisa disebut sebagai salah satu pionir dalam konteks musik eksperimental yang disajikan dalam format grup musik (band) di Yogyakarta. Wilayahnya tentu berada di luar kanon pengertian musik kontemporer ala sekolah musik (meskipun panggung yang dijajaki di kemudian tergolong dalam panggung musik akademis).
Memang, upayanya berdekatan dengan hal yang dilakukan oleh musisi lain (seperti Harry Roesli, Guruh Soekarnopoetra atau Christmas Camel yang masih sama-sama dari Yogyakarta), namun percobaan-percobaan yang PADS Group atau khususnya Sapto Raharjo lakukan membawa mereka pada ranah di luar konsep grup musik (band) konvensional.
Contoh nyatanya ada pada pola estetika “Pasarean Imogiri” di atas yang alih-alih berhenti sebagai komposisi tetap, ia banyak mengedepankan sisi eksploratif dan/atau improvisasi bebas di dalamnya.
Satu butir fakta menarik lainnya adalah paket komposisi Yogyaharmonic Music diciptakan 7 tahun sebelum diterbitkannya paket musik elektroakustik abstrak berjudul “Batas Echo” oleh Harry Roesli.
Pada bagian awal babak dekade 1970an, JSI sempat menyinggung pertemuan sederet pelajar AMI Yogyakarta dengan Jack Body yang sedang giat mendiseminasikan wacana musik kontemporer di Indonesia.
JSI kemudian berargumen, bahwa mungkin, salah satu ‘buah’ dari pertemuan ‘di luar kelas’ tersebut adalah momen penampilan mahasiswa AMI Yogyakarta (dipimpin oleh Edward C. Van Ness) di Teater Arena TIM yang tercatat oleh Majalah Tempo berikut ini.
Lagu yang mereka bawakan malam itu ialah “Lagu Tanpa Judul”

“Tatkala para mahasiswa AMI (Akademi Musik Indonesia, Yogya) membawakannya, tiba-tiba seorang laki-laki muncul, naik ke kursi dan berpidato. Dengan lugu tapi juga tajam ia bicara tentang musik. Antara lain: bahwa musik yang sedang dimainkan di bawah konduktor Edward C. Van Ness itu tidak penting. Yang penting adalah pidatonya.“
Pelaku pidato ‘intervensi’ di tengah permainan musik di atas adalah Sutanto, seseorang yang kini lebih dikenal sebagai pendiri Festival Lima Gunung, akrab dipanggil dengan nama Sutanto ‘Mendut’.
Mengapa pidato tersebut JSI sebut sebagai intervensi?
Pasalnya, berdasarkan catatan dari artikel berjudul “Klasik Dan Kontemporer Bersatulah” ini, tidak ada seorang anggota ansambel pun (termasuk Edward) yang tahu akan aksi Sutanto tersebut. Semuanya dibuat kaget dan keheranan. Bentuk ‘intervensi’ ini kemudian JSI maknai sebagai bagian dari uji coba penciptaan nuansa musik kontemporer (yang menurut catatan artikel di atas juga diamini oleh para penonton malam itu).
Bahkan, bagi JSI, di sini Sutanto seolah menghadirkan kesan ‘ekstramusikal’ dengan konten berupa ajakan (manifesto) agar seluruh hadirin turut serta mengacak-acak definisi musik itu sendiri secara radikal.
Artikel bertajuk “Mencari Musik Baru” oleh Suka Harjana ini merupakan liputan acara Pekan Komponis Muda pertama yang diselenggarakan pada 19-22 Desember 1979 di TIM, Jakarta.
Nama Sutanto kembali muncul sebagai salah satu pengisi acara bersama tujuh komponis lain (di antaranya ada Rahayu Supanggah, Nano Suratman, dan Otto Sidharta) yang tampil malam itu.
Pada liputan ini, Harjana, seolah berperan sebagai ‘jembatan’ dan pemberi legitimasi kelahiran logika musik baru dengan menjadikan ”komposisi’ Sutanto sebagai pamungkas peristiwa malam itu:
“Musik konvensional, seperti kita kenal sehari-hari inilah yang ingin dilawan oleh Sutanto, 25 tahun, mahasiswa AMI di Yogyakarta, dengan karya absurdnya Sketsa Ide. Agak mencengangkan (atau justru logis?) bahwa anak muda dari Yogyakarta, kota yang terkenal klasik itu, justru berontak melawan arus kebiasaan legitimitas musik. Ia bahkan tidak berpretensi menyebutkan karyanya sebagai musik. Karya musik yang gaduh ini, atau simponi hiruk-pikuk, tidak saja mengerahkan sejumlah pemain — yang tidak profesional — bahkan juga seluruh penonton. Musik Sutanto menyarankan agar kita berpikir dan merenung kembali apakah masih perlu dan ada gunanya melanjutkan kebiasaan membosankan dalam kehidupan (musik) kita sehari-hari. Dan itulah kesan keseluruhan Pekan Komponis Muda yang pertama ini.“
Bagi JSI, ‘perbuatan’ Sutanto di atas berhasil menjadi jawaban simbolis atas asumsi terkait upaya pengobrak-abrikan definisi musik secara radikal dari dua tahun sebelumnya.
Unsur ‘ekstramusikal’ yang dinuansakan pada konser ‘Klasik dan Kontemporer’ bersama Edward kembali muncul dalam presentasi karya Sutanto: gaduh, hiruk-pikuk dan berpotensi mendobrak batas antara yang musisi dan yang bukan.
Meskipun tidak bisa mendengar dan/atau merasakan ‘bunyi’ malam itu, minimal ajakan merenung tentang ‘manfaat melanjutkan kebiasaan membosankan dalam kehidupan bermusik’ bisa dirasakan gema semangatnya.
Semangat yang nuansanya kurang lebih sama: misalnya dengan motivasi berdasarkan rasa bosan Sapto Raharjo saat mulai bereksperimen bersama PADS Group yang diungkapkan lewat buku otobiografinya dan bahkan semangat eksperimentasi oleh para pengampu gaya musik ini sekarang.
Paparan ini akan kembali pada modus pendekatan ‘musik eksperimental’ dengan poros gamelan Jawa. Nama Sapto Raharjo (yang memang dominan berdasarkan temuan-temuan JSI) kembali muncul di sini.
Setelah sekian lama merasa stuck dengan musik, Sapto kembali bergulir bersama grup baru bentukannya yang beranggotakan murid-murid Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Yogyakarta dengan nama DAMPITT Group.
Pada tengah dekade 1980an, Sapto bersama DAMPITT mencetuskan beberapa episode pertunjukan dengan tajuk utama “Gamelan Meets Synthesizer Art Rock.” (GMSAR)

GMSAR pertama kali dipresentasikan pada 4 September 1986 di Purna Budaya dengan melibatkan kurang lebih 16 pengrawit, termasuk Sapto dan Manu Sutrisno sebagai pemegang kendali perangkat penyintesis.
Pada gelaran pertamanya, GMSAR menampilkan sebanyak 1 komposisi tradisi dan 8 komposisi kreasi baru (istilah yang umum digunakan dalam konteks penggarapan gending baru di ranah karawitan). Konser musik ini kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi untuk membahas presentasi musik yang disajikan sebelumnya.
Satu hal yang sangat menarik dari sesi diskusi ini adalah pelibatan Wasisto Suryodiningrat sebagai salah satu panelis. Momen ini juga sepertinya merupakan momen pertama Sapto dan Wasisto saling bertemu.
Pasca menyaksikan pertunjukan GMSAR (lagi-lagi dengan kecenderungan teatrikal, sepertinya ini menjadi pola penciptaan Sapto yang memang akrab dengan dunia teater), Wasisto memberikan komentar yang cukup tajam. Baginya, komposisi yang dimainkan pada perhelatan tersebut tidak ada yang luar biasa, “Itu lancaran biasa, ladrang biasa”, ujarnya. Wasisto sempat memberi ancang-ancang bahwa ia memang merasa ada bias usia antara dirinya dan Sapto. Namun dalam ini ia berpesan bahwa tidak sembarang gending gamelan Jawa bisa dijadikan objek eksperimentasi.
Ia juga berpesan bahwa alih-alih menggantikan posisi gending klasik, gending-gending kreasi baru ini posisinya hanya ada sebagai pendamping. Sebagai evaluasi, pencetus gending komputer ini menyarankan perlunya ada penguasaan yang lebih mendalam terkait penggunaan perangkat komputer dan penyintesis sekaligus pengetahuan musik secara umum untuk menghasilkan tembang-tembang yang lebih prima.
JSI ingin menyertakan nama Otok Bima Sidarta (kakak kandung Djaduk Ferianto), sebagai penutup pembahasan sensus bunyi untuk dekade 1980an.
Otok Bima Sidarta adalah salah satu pendiri Pusat Latihan Karawitan (PLK) Yogyakarta pada 5 November 1988.
Selain aktif sebagai pengrawit, Otok Bima Sidarta juga sempat menulis artikel terkait musik untuk beberapa penerbit koran.
Satu tulisan Otok yang JSI temukan adalah liputan konser tunggal Sapto Raharjo dengan judul “Sapto Raharjo Bikin Aksi Yogyakarta Jadi Saksi.”
Salah satu ‘komposisi’ kreasi baru Otok yang berkaitan dengan temuan arsip rekaman suara maupun tekstual JSI adalah “Mubeng Beteng.”
“Mubeng Beteng” pertama kali diciptakan pada tahun 1989. Gending kreasi baru ini kemudian direkam di Lokananta dan untuk kali pertama diterbitkan sebagai bagian dari kompilasi berjudul “Mana 689 – New Music Indonesia Vol. 2” dalam format kaset pita dan cakram padat oleh American Gamelan Institute melalui Lyrichord, label rekaman independen asal Amerika Serikat. Tembang ini kemudian direkam ulang dengan versi yang berbeda dan diterbitkan kembali dalam format kaset pita oleh Fajar Records.
Jody Diamond dan Larry Polansky (selaku produser rekaman lagu ini) melalu artikel “The New Music Indonesia Commissioning Project” menyatakan bahwa salah satu kriteria pemilihan komposisi untuk album kompilasi ini harus berasal dari komponis berdampak kuat. Kriteria ini dibentuk berdasarkan riset jangka panjang yang mereka lakukan terhadap musik-musik Indonesia. Bagi mereka, “Mubeng Beteng” merepresentasikan teknik permainan gamelan yang terbilang kontemporer. Salah satunya adalah alih-alih memainkan gong dengan cara digantung, grup Otok meletakkan gong di atas karpet untuk mengontrol dan memanipulasi gaung gemanya. Selain dari pada itu, komposisi ini juga dianggap menyajikan tema yang terbilang tidak umum dalam konteks karawitan.
Bagi JSI, telah jelas bawha fenomena “Mubeng Beteng” oleh Otok menimbulkan efek benang merah yang kuat dengan semangat kebaruan embanan Ki Cokrowarsito. Sebagaimana deskripsi Judith terhadap Ki Cokro di bagian pembuka, Otok adalah orang dengan keterikatan kuat terhadap tradisi yang dibarengi dengan etos mendobrak batas-batas lama untuk menuansakan kebaruan.
JSI memilih karya “Binaural” oleh Haryo Yose Suyoto sebagai titik buka menuju dekade 1990an.
Di sini, JSI akan merujuk dokumen. Dokumen pertama adalah artikel berjudul “ǝlɐuuǝᴉq sɐ ǝɯɐs ǝɥʇ ǝq ʇouuɐɔ lɐuᴉq: Might the Exhibition Be a Festival?” (Grace Samboh dan David Morris, 2021) dan Transkrip Wawancara – Binaural – Binal Eksperimental Art 1992 (Grace Samboh, 2009).
“Binaural” pertama kali “dipentaskan” pada perhelatan Binaural Eksperimental Art pada tahun 1992 di Yogyakarta.
“Iya, kita bikin binaural. Itu kan plesetan dari binal. Binal-aural. Suara yang binal. Waktu itu orang tidak terbiasa dengan hal semacam itu. Satu pementasan, masuk ke gedung, lalu duduk. Penonton tidak harus mencari di mana letak si ‘bunyi’, karena bunyi-bunyi itu semua berlangsung sekaligus.“
“Binaural” dimaksudkan sebagai komposisi musik berbasis peristiwa langsung yang “diperdengarkan” dalam satu ruang sekaligus secara utuh kepada para pendengar. Yose bermaksud menyajikan suasana Sekaten, festival peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, melalui komposisi tersebut.
Berbeda dengan Sutanto, di sini Yose tidak berkelak bahwa yang ia sajikan adalah komposisi musik.
“I mean, they can call it whatever they want. For me, I was simply making music. Since they were proposing the [word] ‘binal’ as a concept or some sort of departing point, I responded to them with a ‘binal’ that was aural, Binaural.”
Jika merujuk pada deskripsi serta foto dari artikel Grace dan David, memang sepertinya suasana ‘pasaran’ selayaknya Sekaten diusahakan terasa di seluruh ruang aula AMI Yogyakarta saat itu. Di satu sudut sederet orang menembakkan peluru kertas menggunakan pipa ‘sedotan’ ke arah beberapa instrumen gamelan. Di sudut lain para pemain instrumen tiup mengikuti jalaran kertas skor musik yang menempel di sepanjang tembok.
Berpindah sudut, sederet orang berjejer membawa instrumen musik konvensionalnya masing-masing. Hal yang berbeda di sini adalah masing-masing dari mereka menggunakan helm agar tidak bisa saling mendegar permainan satu sama lain dan hanya fokus pada skor musik di hadapan mereka. Ketika menengok ke arah lain, penonton akan melihat Djaelani, vokalis untuk komposisi ini, sedang ‘menyanyikan’ sesuatu sambil naik ke atas tangga besi. Saat ditanya oleh Grace tentang apa yang ia nyanyikan, ia sendiri sudah tidak ingat.
“Of course, I am aware that the word [binaural] is also a technical term in the field of sound recording. And that music composition indeed aspires to be as dynamic as the Sekaten. Not to record the sounds of Sekaten in a three-dimensional sense, but to recreate the ways in which sounds are being experienced.“
Berbeda dengan Sapto di Yogyaharmonic Music, di sini Yose ingin suasana bunyi Sekaten dihadirkan kembali sifat-sifatnya, bukan estetikanya. Pengakuan ini menjadi jawaban terang benderang ketika isi komposisi musik dalam ruang aula tersebut sama sekali tidak mencerminkan isi dari Sekaten itu sendiri. Karena, sekali lagi, yang dihadirkan adalah perilaku bunyinya, bukan interpretasi verbatim terhadapnya.
Di artikel ini beberapa kali kita berjumpa dengan catatan peristiwa dan/atau percobaan tanpa rekaman suara sebagai pendamping. Namun, jika kita secara spesifik merujuk komposisi “Binaural” maka dapat kita sadari bahwa beberapa catatan terkait pendekatan eksperimentasi bunyi ini memang hanya dirasakan seketika saat bunyi tersebut diupayakan saja. Belum tentu bisa direkam, disimulasikan, atau diulang kembali.

Di tahun yang sama, setelah ‘berkelana’ ke sana kemari menyajikan konsep one man show, Sapto Raharjo kembali hadir dengan konsep penciptaan suasana yang dekat dengan modus penciptaan Yose melalui karya berjudul “WIN”.
“WIN” adalah komposisi panjang dengan durasi permainan tiga hari tanpa henti.
Komposisi ini ditampilkan dari hari Sabtu (4 Juli) hingga Senin (6 Juli) di Purna Budaya, Yogyakarta.
Peristiwa ini tercatat di berbagai media, salah satunya dalam artikel “Penting Bagi Pertumbuhan Musik Kontemporer Indonesia” oleh Koran Bernas.
Komposisi (atau konser?) “WIN” disebut sebagai laboratorium musik sekaligus panggung oleh Sapto Raharjo untuk bereksperimen sekaligus mempertunjukan berbagai kreasi bunyi dari berbagai sumber bunyi.
Sedikitnya Sapto menggunakan 117 sumber bunyi dalam komposisi ini. Mulai dari suara alam seperti desisan angin hingga beragam kreasi bunyi dari perangkat komputernya. Jika kita merujuk rekaman di sebelah kanan, siulan orang saat mandi juga menjadi bagian dari komposisi ini.
Menurut Franki Raden, meskipun sepi peminat, karya ini penting dicatat sebagai ‘pentas musik’ dengan deretan alat paling canggih dan lengkap sepanjang sejarah musik kontemporer Indonesia.
Dalam liputan tersebut Otok Bima Sidarta juga menyampaikan pendapatnya. Otok mengapresiasi kekuatan stamina Sapto untuk memainkan komposisi dengan durasi super panjang tersebut. Namun, ia juga menyampaikan saran bahwa Sapto seharusnya bisa lebih piawai mengatur ritme tiap repertoar agar tidak ada yang terlalu mencolok antara yang satu dengan yang lainnya.
Seperti disebutkan pada paragraf pembuka, JSI berargumen bahwa corak karya ini memiliki tuntutan nuansa yang mirip dengan “Binaural.” Alih-alih hadir sebagai ‘tontonan’, komposisi ini hadir sebagai peristiwa bersama. Ia sama-sama berupaya mengoptimalkan berbagai perilaku bunyi ke dalam satu ruang peristiwa. Namun juga, sekali lagi, komposisi berbasis peristiwa ini sekali pun ada rekaman bunyinya, hanya bisa dirasakan dengan utuh sekali saja dalam ruang peristiwa yang sama.
JSI pertama kali mengenal nama Paul Gutama Soegijo (PGS) melalui artikel obituari Septian Dwi Cahyo terbitan Art Music Today yang berjudul “Selamat Jalan, Komponis Paul Goetama Soegijo.“
Saat melakukan penelusuran lebih lanjut, JSI tidak menyangka bahwa koleksi kliping tentang dirinya tersimpan dengan baik di situs web Monumen Pers Nasional (MPN). Termasuk rekaman-rekaman dan skor musik komposisi ciptannya yang tersusun dengan rapi dan terbuka aksesnya untuk publik di situs web International Music Score Library Project (IMSLP).
Mungkin kesan ini muncul karena memang latar belakang pengarsip JSI yang belum terlalu akrab dengan dunia musik kontemporer di ranah yang lebih akademis.

PGS adalah seorang komponis kelahiran Yogyakarta yang banyak melakukan aktivitas musiknya di Berlin, Jerman. Pemantik daya cipta serta berbagai pendekatannya sangat bertolak belakang dengan Ki Cokrowarsito. Alih-alih terdorong menjadi seorang nasionalis, PGS terdorong oleh klaim Sukarno terhadap musik barat yang dianggap sebagai musik ngak-ngik-ngok belaka. Klaim ini memotivasinya untuk berangkat ke luar Indonesia dan kemudian mencetuskan istilah “Musik Leluhur Baru” (New Source Music) yang ia praktikkan lewat berbagai komposisi bersama Banjar Gruppe Berlin.
Dengan mendengarkan komposisi di atas, JSI rasa kita dapat bersama-sama meresap modus penciptaan “Musik Leluhur Baru” ala PGS. Setelah lama bermukim di Berlin dan membentuk Banjar Gruppe Berlin, PGS sempat kembali ke Yogyakarta pada tahun 1977 untuk membeli seperangkat gamelan. Meskipun begitu, “Musik Leluhur Baru” tidak hanya terikat pada ikatan keleluhuran Paul dengan pulau Jawa saja. Ia juga mengoleksi instrumen musik perkusif dari negara Asia lainnya, termasuk yang berasal dari Afrika dan juga Amerika.
Bagi JSI, PGS memiliki karakter unik yang mungkin tidak dimiliki komponis lain di artikel ini. Keunikan utamanya mungkin berasal dari ikatannya yang lentur terhadap konsep kebangsaan namun sambil tetap berpijak kuat pada ingatan keleluhurannya. Mirip dengan konteks politik identitas Ki Hadjar Dewantara, PGS berada di ranah ambang yang tidak hitam dan tidak putih. Ranah abu-abu PGS tercermin sebagai keunikan tersendiri pada komposisi-komposisi besutannya.

Pada fase-fase akhir sensus bunyi, JSI baru kemudian sadar untuk menyertakan Kiai Kanjeng ke dalam ruang indeksnya. Alih-alih dimaknai sebagai projek musik, dengan apa adanya, Kiai Kanjeng JSI beri pemaknaan sebagai metode.
Kelahiran ‘metode’ Kiai Kanjeng pada tahun 1993 salah satunya dipantik oleh penerapan metode di luar slendro dan pelog ala karawitan konvensional.
Salah satu pendirinya, Nevi Budianto, menerapkan notasi solmisasi: sel-la-si-do-re-mi-fa-sol dengan nada dasar G=do atau E Minor untuk menyelarskan gamelan Jawa dengan musik barat hingga musik Arab.
Catatan pada salindia di atas merupakan liputan pengamatan Jody Diamond terhadap penyelenggaraan Yogyakarta Gamelan Festival pada tahun 1997. Di laporan ini, Jody menyaksikan Kiai Kanjeng sebagai penampil terakhir dengan jumlah penonton terbanyak. Kemungkinan jumlah penonton ini menumpuk juga karena keeratan hubungan grup ini dengan Emha Ainun Nadjib sejak mereka tergabung dalam Teater Dinasti.
Potret keramaian tersebut di atas, bagi JSI, bisa menjadi potret fenomena bahwa musik jenis ini sebenarnya tidak berhenti pada ruang-ruang yang sepi. Baik itu auditorium akademisi maupun panggung-panggung bawah tanah. Eksperimentasi terhadap musik bisa menjadi satu bagian dengan satu objek besar dengan peminat banyak. Jika merujuk catatan ini, hal tersebut berarti sebelumnya pernah terjadi di Yogyakarta. Mungkin, hanya bisa terjadi di Yogyakarta.
Linimasa jelang milenium mungkin bisa dimaknai sebagai ruang regenerasi besar-besaran untuk musik jenis ini di Yogyakarta.
Idiom ‘musik elektronik eksperimental’ bergeser tidak terbatas pada ranah tradisi-akademis-festival seni kontemporer ke panggung bawah tanah. Hal ini mulai beresonansi dengan gaya hidup alternatif anak muda di masa itu.
Tercatat secara berurutan: Sonic Noise, Handoyo Purwowijoyo, To Die, Performance Fucktory, Mencari Harmoni (menjadi Parkinsound pada 2001), Sejuta Kata Makian (SKM), Seek Six Sick, Teknoshit, Belajar Membunuh, Prodjek Babi No.9, dan terminologi ‘Seni Media Baru‘ mencuat ke permukaan.

Karena banyaknya nama dan terbatasnya ruang cerita, di sini JSI akan mendalami satu contoh saja.
Ishari ‘Wulu’ Sahida dan Agustinus ‘Jompet’ Kuswidananto adalah dua orang di balik ‘grup musik’ elektronik industrial ini.
Jika pembaca klik masing-masing nama mereka, maka data-data yang muncul akan menunjukkan resonansi kuat antara gaya hidup anak muda dengan dunia seni kontemporer di masa itu.
Selain sempat melahirkan satu mini album bersama SKM, Jompet kemudian banyak terlibat dalam penciptaan karya seni yang memadukan bunyi dengan visual maupun peristiwa. Catatan komprehensif tentang hal tersebut bisa dibaca secara runut melalui teks berjudul “Ketika Bunyi Menjadi Bentuk: Refleksi dan Catatan atas Genealogi Seni Bunyi dan Praktik Seni Lintas Disiplin di Yogyakarta Periode 1998 – 2004” oleh Alia Swastika. Simpul-simpul data lain seperti Marzuki Mohamad (kini dikenal sebagai Kill the DJ dan bagian dari Jogja Hip Hop Foundation), Vincensius Christiawan (kini intens bersama Vufoc) dan Pius Sigit Kuncoro (bagian dari Geber Modus Operandi) juga muncul untuk melengkapi pembacaan konteks ‘musik seni mutimedia’ di masa tersebut.
Ari Wulu adalah putra sulung Sapto Raharjo. Fakta ini mungkin membawa kita pada ungkapan barat yang berbunyi ‘blood is thicker than water.’ Interaksi keseharian antara Wulu dengan ayahnya, baik erat maupun tidak, mungkin bisa jadi satu ‘petunjuk’ keterpaparan kuat terhadap musik dengan jenis ini. Juga bagaimana kemudian hal ini memungkinkan terjadinya interaksi antara anak muda di dalam keseharian pergaulan Wulu (yang memang memiliki ketertarikan dengan dunia musik) menyebabkan adanya interaksi antara ‘warisan’ Sapto dengan generasi selanjutnya. Kiprah Wulu di kancah musik ini akan kembali muncul di bagan selanjutnya (meskipun tanpa langsung menyebut namanya), oleh karena itu JSI hendak menutup bagan dekade 1990an ini dengan artikel berjudul “Mengenang Eksperimentasi Sapto” (2009) oleh Garna Raditya yang memotret tebakan JSI terhadap interaksi ‘anak muda’ dengan warisan Sapto tersebut.
Masih seperti yang JSI sampaikan pada babak akhir bagan presentasi statistik paket komposisi sensus bunyi JSI: sesi cerita per dekade ini mengkombinasikan data kualltatif dan kuantitaif. Jika pembaca tidak menyadari hal ini, coba baca ulang dari awal dan sandingkan dengan bagan 10 besar projek musik dengan paket komposisi paling banyak dari hasil sensus JSI.
Untuk dekade awal milenium (2000an), JSI akan menggunakan dua sample: 1 berasal dari kategori projek dan 1 dari kategori acara, Sodadosa dan Sound Performance FKY 2005.
Sodadosa mungkin dibilang sebagai projek musik ‘one man‘ terlama (sejak tahun 2004) yang memainkan noise sebagai noise dengan kesadaran penuh sedari awal hingga kini. Krisna Widiathama, ‘biang’nya Sodadosa, juga terlibat dalam ‘unit musik’ noise Black Ribbon di tahun yang sama. Peristiwa program menonton video bersama oleh IVAA bertajuk Movie on 10 menjadi penanda bagaimana musik noise dan geliat seni media baru yang muncul 3-4 tahun sebelumnya dimaknai sebagai sesutu yang saling terkait di Yogyakarta. JSI berasumsi bahwa puncak dari rentetan kejadian ini salah satunya dibingkai sebagai peristiwa akbar oleh Festival Kesenian Yogyakarta tahun 2005 (melibatkan Black Ribbon, Ari Wulu sebagai midijunkie dan Vincencius Christiawan sebagai Electrocore), yang kemudian bisa dibilang melahirkan kebiasaan penggunaan istilah live PA, sound performance, multimedia performance dan/atau performance installation.
Pembicaraan di bagan ini akan didominasi contoh arsip dari satu ranah skena saja tanpa mengurangi rasa hormat guliran produktivitas Yogyakarta Contemporary Music Festival yang ada sejak tahun 2004 dan dokumentasi naratifnya tersusun rapi dalam karya disertasi Chris Miller. Masih sama dengan disclaimer pada babak awal presentasi ini, sensus JSI berangkat dari hal-hal familiar, yang memang dominan tidak berasal dari ranah musik eksperimental ‘akademis’ – yang kini batasannya makin kabur dengan musik eksperimental populer.
Lalu, hal lain yang tidak bisa luput dari catatan babak pertengahan menuju akhir milenium adalah keberadaan SoundBoutique (SB). Catatan tentang SB di JSI memang belum lengkap. Namun, paling tidak dengan melihat jajaran penampil acara musik reguler di laman Electrocity ini, JSI dan pembaca bisa memberikan tafsir bahwa SB memang ada sebagai ruang berkumpul para ‘pemain’ jenis musik dalam konteks yang disinggung pada paragraf tentang Sound Performance di FKY 2005 tadi. Potret ‘sensus’ yang cukup menyeluruh terkait hal ini juga bisa dilihat dengan membaca teks ringkas oleh Eko Wahyu Prasetyo (Pito) dengan judul “Scenerama: Electronic” ini. Termasuk di antaranya adalah kehadiran breakcore_LABS dan dimulainya seri festival Cellsbutton oleh House of Natural Fiber.
Satu catatan penting lain adalah keberadaan sosok Aji Wartono (WartaJazz) yang hadir sebagai seorang ’empu’ referensi musik eksperimental non-akademis bagi para praktisi musik bawah tanah saat itu.
Hal itu terbukti dengan adanya terbitan zine berjudul “Kompirasi Vol. 1” yang mendokumentasikan ideologi band-band yang hingga kini masih dianggap penting seperti Zoo, Belajar Membunuh, Prodjek Babi No. 9, Black Ribbon dan Melcyd. Selain Melcyd, semua band tersebut masih aktif, dan ada yang kemudian berubah namanya. Zoo berganti nama menjadi Wusa dan Prodjek Babi No.9 yang berubah menjadi Sakarin, misalnya.
Pengaruh grup-grup ini, termasuk lahirnya Yes No Wave Music pada tahun 2007 dan Art Music Today beserta KKM 6,5 Composers Collective di ranah akademis pada tahun 2008, tidak bisa dianggap enteng pada berbagai projek dan/atau peristiwa musik di dekade selanjutnya.
Dekade 2010an, menurut pembacaan JSI, adalah teritori di mana gagasan tiap pemeran di dekade sebelumnya kian terbentuk dan berjalan secara konsisten.
Tiap pemeran mulai memiliki dan saling membagikan ‘ruang bermain’ mereka masing-masing.
Dari sekian banyak: Yes No Klub, Jogja Noise Bombing, KOMBO, The Instrument Builders Project, October Meeting – CMM dan Ruang Gulma mencuat dengan gaya khas sendiri-sendiri.
Meskipun dalam hal ini memang tidak dapat dipungkiri produktivitas gaya musik noise dan berbagai kembangannya mendominasi.
Kembali menggunakan Sodadosa sebagai contoh, noise berkembang dari percobaan memainkan sinyal bunyi secara acak ke aktivitas yang lebih bermakna ‘kompositoris’. Jika lagu berjudul “Luka” (muncul pada salindia pembuka, terbit pada tahun 2014) di atas diperhatikan dengan seksama, tampak bahwa Krisna berusaha mengontrol dinamika alur dan tekstur bunyi lewat mekanisme kontrol berdasarkan kanal. ‘Komposisi’ musiknya tak lagi terdengar sebagai rekaman suara kebisingan yang acak tanpa arah. JSI cukup berani membuat klaim kuat bahwa Krisna adalah salatu pemain genre harsh noise yang paling awal menggunakan metode cut up yang populer di kemudian hari. Hal ini tak luput pengaruhnya tampak pada karya pemain ‘pendatang’ yang kemudian terikat dengan kota Jogja dan turut JSI indeks seperti pada salindia di atas: Bergegas Mati (Malang) dan Concrete Crusher (Purworejo). Termasuk dalam hal ini adalah projek seperti DN. Aideath oleh Tanaya Pratama (Tulungagung) yang hasil produksinya tergolong ‘presisi’ (setelah menempuh berbagai proses percobaan) dan segar dalam konteks lokal.
Analisis musikal secara kolektif dan personal Krisna juga dapat diakses lebih lanjut lewat teks berjudul “Jogja Noise Bombing: Komunitas Experimental-Noise di Jogjakarta” oleh Annamira Sophia Latuconsina ini.
Di sini, JSI juga turut menjadi saksi langsung bagaimana keberadaan platform seperti Lifepatch (Andreas Siagian dan Budi Prakosa) dan Kenali Rangkai Pakai (Lintang Radittya) memberikan pengaruh langsung terhadap pemaknaan itu. Interaksi antara para pemain musik elektronik bawah tanah dengan para pembuat instrumen musik berbasis penyintesis DIY menimbulkan perubahan pada metode dan hasil rekaman bunyi tiap projek. Termasuk bagaimana para engineer ini yang turut menyelenggarakan presentasi musik unik dengan cara mereka sendiri. Misalnya acara bertajuk “Pengolah Sinyal“, “Sonic Art Showcase“, “Orkestroom“, dan presentasi hasil lokakarya “Yogyakarta Synth Ensemble” yang menempakan instrumen musik sebagai pemeran utama. Artikel berjudul “Synth-building culture in Indonesia: An Interview with Lintang Radittya” oleh Zacharias Szumer bisa menjadi salah satu teropong pembantu untuk mempelajari beberapa fenomena tersebut di atas.
Ranah komposisi dan/atau pengayaan metode penciptaan musik pun tak kalah ramai. Mungkin, terutama berasal dari ranah improvisasi bebas dan segala perkembangannya. Sebagai ‘klub’ musik improvisasi bebas Terwujud pertama pada tahun 2013, aktivitas KOMBO tidak berhenti pada presentasi musik, namun juga diskusi dan lokakarya. Salah satu pendirinya, Rully Shabara (Wusa dan Senyawa – di antara banyak projek), intens mengembangkan serangkaian skor musik berbasis simbol dan eksperimentasi di dekade ini. Mulai dari format paduan suara seperti Raung Jagat dan Cari Padu hingga yang melibatkan berbagai instrumen seperti Gaung Jagat. Satu platform yang juga penting untuk dicatat adalah WYST (What’s Your Story Of Today) oleh Teater Garasi yang memadukan berbagai pemain dari berbagai praktik (pemain musik, pembuat instrumen, seniman pertunjukan dan lain-lain).

Seluruh (namun tidak terbatas pada – silakan telusur lebih dalam di situs web JSI) peta aktivitas di atas seolah mempersiapkan Jogja sebagai kota untuk menjadi ruang berkumpul dengan skala yang lebih besar menjelang dekade selanjutnya.
Pada bagian ini, JSI rasa penting untuk menyertakan Nusasonic.
Nusasonic adalah ‘festival’ skala besar meliputi segala aktivitas yang JSI sebut pada paragraf-paragraf sebelumnya. Festival ini mempertemukan skena musik klub, akademis, elektronik abstrak (noise), pembuat instrumen musik berbasis eksperimen, pengampu metode improvisasi bebas dan segala aspek lain ke dalam sebuah ruang laboratorium yang secara sekaligus menjadi ruang presentasi bagi mereka.
Bagi JSI, kini menjadi penting untuk melakukan pembacaan sejarah musik elektronik eksperimental Jogja dengan modus pembacaan sebelum (pre-) dan sesudah (post-) Nusasonic.
Karena, selain dari aspek penyelenggaraannya, perhelatan akbar ini JSI rasa penting dalam pembentukan lanskap ideologi dan estetika karya musik elektronik eksperimental Jogja.
Terutama bagaimana Raja Kirik dan Gabber (bukan Geber) Modus Operandi lahir dan memperkenalkan metode fusi (mungkin, terutama dalam aspek perkusif) ke dalam ranah musik elektronik untuk ‘dansa’ (EDM) dengan pendekatan yang sama sekali baru: sangat lokal dan hampir tanpa aprosiasi atau eksploitasi.
Termasuk juga unit EDM dengan pendekatan lokal yang embrionya terbentuk pada tahun yang sama seperti Prontaxan.
Pembacaan ini, kemungkinan besar salah dan JSI sangat terbuka untuk menerima koreksi terkait hal ini.
Rasanya masih terlalu dini untuk melakukan pembacaan (bahkan menyebut) tentang dekade 2020an.
Dekade ini masih berlangsung dan sudah berjalan setengahnya.
Untuk itu, pada bagan dekade 2020an JSI akan merujuk data statistik paket komposisi saja. Pasalnya data ini (meskipun belum bisa JSI buka format mentahnya) merupakan basis data yang paling lengkap (representatif) dibandingkan data dari kategori lain.
Jumlah data kategori lain yang dihimpun JSI terkait dekade ini masih sangat bisa pembaca lacak sendiri di situs web ini.
Di sini, JSI menggunakan data komposisi-komposisi dari Sanjonas, Mahamboro dan Rangga Purnama Aji sebagai representasi paruh awal dekade 2020an.
Hal ini belum sempat JSI konfirmasi, namun berdasarkan aktivitas mendengarkan beberapa kali, komposisi Sanjonas dan Mahamboro (serta platform aktivitas yang mereka buat bersama maupun masing-masing) merupakan salah satu hal yang bisa jadi mendefinisikan musik elektronik untuk dansa kontemporer pada hari ini. Ketika mendengar komposisi mereka, terutama yang dibuat untuk musik dansa elektronik, JSI tidak pernah menemukan satu terminologi yang cukup untuk mengkategorikannya. JSI juga berasumsi bahwa apa yang mereka buat, mungkin sedikit-banyak, mendapat pengaruh serta menjadi jembatan terhadap kesimpulan ideologis dan estetis Nusasonic di penutup bagan dekade 2010an.
Segala hal yang mereka buat masih berlangsung. Sanjonas tampak sedang berfokus dengan label rekaman barunya untuk eksplorasi musik perkusif non-barat dan dari 2 terbitan musik terakhirnya, Mahamboro tampak fokus pada pengaplikasian musik free jazz ke dalam eksplorasi musik elektronik untuk dansa gaya bebas.
Kemudian, rasanya aneh jika tidak menyebut nama Rangga Purnama Aji sebagai penerima tongkat estafet (secara tak langsung) terkini yang paling produktif dalam ranah penciptaan musik jenis ini. Bagi JSI, berbagai pendekatan praktiknya (sebelum kemudian cukup dominan bermain di ranah komposisi algoritimis) terhadap musik (juga sebagai seseorang dengan pendidikan musik) selalu menunjukkan persilangan dan/atau perjumpaan yang menarik. Satu aspek penting dalam konteks musik eksperimetal (baik klasik dan/atau elektronik) bagi JSI adalah metode dibagikan. Dalam setiap penerbitan komposisi musik maupun aktivitas musik lainnya, Rangga tampak konsisten melakukan hal ini.
Pembagian metode secara terbuka memungkinkan pembacaan yang luas, serta kemungkinan bagaimana musik bisa diolah kembali dan/atau didekati dengan berbagai modus secara inklusif.
Jika boleh berpendapat kembali, rasanya ini menjadi hal mutlak di ranah musik eksperimental yang membutuhkan ruang saling belajar tanpa batas dan memperbesar berbagai kemungkinan.
Termasuk seperti yang intens dilakukan oleh Rully Shabara melalui Xhabarabot Voice Machine di dekade ini: keterbukaan akses instrumen dan pengajuan modus penciptaan musik generatif yang tidak linear.
Presentasi panjang ini hanya kolase fragmen yang disusun berdasarkan arsip dari lema-lema JSI.
Proses pengindeksan arsip JSI masih berlangsung dan juga masih sangat jauh dari kata lengkap.
Namun semoga sesi presentasi ini dapat menjadi satu rekaman temporal terkait pembacaan terhadap sejarah musik elektronik eksperimental Jogja berbasis arsip yang terus bergerak (dinamis – tanpa rentang waktu).
Sebagai penutup, JSI melampirkan komposisi musik “Pseudo-Slendro To Pelog Barang” (2020) oleh Rangga Purnama Aji yang berusaha menggunakan pendekatan musik algoritmis dalam konteks keleluhuran personal dan JSI rasa bisa menimbulkan nuansa non-romantis yang hampir sama dengan “Kinanthie Sandoong” sebagai pembuka cerita di awal tadi.
Salam.
Sesi Diskusi
Catatan ini dibuat berdasarkan sesi diskusi singkat pasca presentasi Sensus Bunyi JSI di Gaung RTFM 2016.
Pertanyaan oleh Iman Fattah:
“Apakah pernah ada catatan rekaman dari generasi sebelumnya yang menunjukkan keterkaitan antara Jogja dengan kota-kota lain?”
Jawaban oleh JSI: “Tentu saja ada, namun tidak termasuk dalam arsip yang telah JSI indeks. Mungkin hal terdekat yang bisa dipelajari terkait hal ini bisa diakses di perpustakaan Komunitas Gayam 16. Salah satunya adalah “Konser Musik Untuk Generasi Masa Depan” dari tahun 1993 yang mempertemukan Sapto Raharjo (Jogja), Ben Pasaribu (Medan), Franki Raden (Jakarta) dan Harry Roesli (Bandung) dalam satu ruang pertunjukkan.“
Saran oleh Gatot Danar Sulistiyanto:
“Musik jenis ini akan sulit dilacak sejarahnya jika mengandalkan pembacaan gaya musik (genre saja). Pada dasarnya musik seperti ini ada dan/atau tercipta oleh karena keberadaan teknologi yang menyokongnya. Mungkin bisa lebih masuk akal jika pembacaan sejarah bisa berfokus pada tiap instrumen musik (misalnya jika membicarakan musik electroacoustic) yang digunakan dalam konteks komposisi maupun pertunjukan.”
Saran oleh Eris Setiyawan:
“Mungkin untuk menunjang fungsi kontribusi terbukanya, JSI bisa mengadakan acara secara luring untuk membuka lapak kontribusi arsip secara langsung di acara tersebut.”
Penutup
- JSI sedang mengupayakan format terbaik agar data mentah paket komposisi dapat diakses oleh publik.
- Data mentah paket komposisi mungkin akan dipublikasikan dalam format zine secara bekala atau melalui aplikasi pemuat basis data yang paling kompatibel secara sekaligus.
- Akses terbatas terhadap basis data diperkenankan dengan mengontak JSI melalui jogjasonicindex@gmail.com
- JSI berencana melakukan lebih banyak kunjungan lapangan untuk melengkapi pundi-pundi pencatatan sejarah musik elektronik eksperimental di Jogja.
- JSI juga sedang terus mengutak-atik format terbaik untuk mempresentasikan setiap arsip temuan sebagai lema di situs webnya. Oleh karena itu mohon maaf apabila masih ada format lema yang belum konsisten satu sama lain.
- Pantau terus arsip terkini oleh JSI untuk mengikuti proses pencatatan sejarah musik elektronik eksperimental di Jogja.
Teks, tata letak dan aspek visual presentasi dan artikel oleh Hilman Fathoni






















