Apakah tiap bunyi yang dilepas sebagai paket komposisi dan/atau album musik masih dapat meraih ruang pemaknannya yang mendalam di tengah jagad ekonomi atensi yang kian menguras energi serta otonomi konsumsi informasi?
Kerja arsip, terutama upaya dokumentasi peristiwa terkini, tidak terlepas dari pencurahan waktu dan energi dari jagat maya. Segudang informasi yang berlalu lalang itu dikenali, dicatat dan diolah sebagai bahan persiapan untuk diceritakan kembali di masa mendatang.
Kira-kira begitulah cara kerja arsip JSI dalam konteks media sosial, terutama untuk kebutuhan sensus bunyi. Sensus bunyi mendorong JSI untuk selalu berusaha mencatat setiap paket komposisi atau album musik yang muncul di beranda. Informasi-informasi tersebut, setelah dicatat, kemudian dijabarkan dalam format basis data formal, kemudian diolah menjadi satu utas penceritaan kembali – agar dapat lebih dikenali, didalami dan dipahami. Besar harapan kami upaya ini dapat menjadi satu pilihan solusi dari pertanyaan bercetak tebal di atas.
Supaya kita bisa tidak dengan mudah melupakan yang baru saja lewat di beranda dan mau berusaha menengok kembali serta menyelaminya secara berulang. Karena jebakan jagad ekonomi atensi, kami rasa begitu nyata resikonya terhadap ingatan. Apalagi ketika dibawa pada konteks musik ‘jenis’ ini. Semoga semua diingat, semoga semua dicatat, semoga semua didengar.
HASIL SENSUS
Berikut adalah representasi grafis tiap ‘pengampu’ bunyi yang tercatat dalam utas edisi paruh awal tahun 2026 ini.
Klik gambar untuk versi lebih besar
Ada sebanyak 27 pengampu bunyi berbeda dan 289 rekaman bunyi sejak bulan Januari-Juni tahun 2026.
Sempprong adalah projek musik solo Trio Mei Rendy, seorang seniman multimedia yang berbasis di Yogyakarta. Album mini bertajuk Tone Loses It Rhyme adalah salah satu buah upaya penciptaan musik dan/atau olah bunyi oleh Rendy. Tone Loses It Rhyme merujuk Xhabarabot Voice Machine, instrumen musik berbasis piranti lunak oleh Rully Shabara, sebagai poros utama pengolahan musik dan bunyi di dalamnya. Pasca perilisan album mini ini pada Oktober 2024, Rendy merilis konten lanjutan berupa video musik yang dapat pendengar simak pada lampiran di atas.
Simponi Bhutakala oleh W.K.Y.P.
Tanggal rilis: 21 Januari 2026
Format: Album
Label: Rilis Mandiri
W.K.Y.P. adalah akronim dari Wahyu Kiky Yudha Prasetya untuk projek musik solonya. Kiky adalah seorang musikus yang kerap terlibat berbagai projek musik lintas gaya di kota Yogyakarta. Salah satu fokus sumber bunyi yang kerap menjadi bahan olahnya adalah bunyi ketubuhan, terutama di ranah vokal. Simponi Bhutakala merupakan album musik vokal dengan fokus tembang ‘Macapat‘ yang ia sampaikan dan padukan dengan berbagai ragam bunyi rekaannya sendiri. Satu catatan menarik dalam hal ini adalah, selain terasah secara ‘akademis’ sebagai alumni ISI Yogyakarta, Kiky juga pernah terdidik sebagai pemain dalam pertunjukan Jathilan.
KURUN oleh Rangga Purnama Aji & Iwenk Karinding
Tanggal rilis: 22 Januari 2026
Format: EP, Kolaborasi,
Label: Rilis Mandiri
Album mini bertajuk KURUN adalah buah kolaborasi menarik antara dua musikus lintas fokus: Rangga Purnama Aji dan Iwenk Karinding. KURUN diolah melalui pendekatan improvisasi bebas dan/atau penciptaan musik instan (instant composing). Melalui pendekatan ini Rangga dan Iwenk mengkombinasikan instrumen vokal (dengan teknik nyanyian overtone, throat singing, satu varian vokal musik metal: growl dan senandung), karinding, harmonium dan bunyi olahan elektronik. Percobaan ini menghasilkan tiga rekaman suara atas interpretasi terhadap tiap fenomena bunyi yang muncul berdasarkan kesadaran musikal masing-masing musikus.
System Failure oleh Sepedagasak
Tanggal rilis: 24 Januari 2026
Format: EP
Label: Rilis Mandiri
Kurang lebih sepuluh tahun lalu, Bolqi aktif sebagai anggota dari kolektif musik dan visual asal Yogyakarta bernama BBDKK. Pada saat yang hampir bersamaan, ia juga menginisasi projek musik solo dengan nama Sepedagasak. Untuk projek solonya, Bolqi berfokus pada musik harsh-noise sebagai medium aspirasi bebunyiannya. System Failure merupakan salah satu paket komposisi bunyi terbaru Bolqi sejak ia kembali aktif dalam penampilan langsung dan aktivitas produksi musik pada 2023.
Genangan menawarkan hasil interpretasi bebas dari pertemuan antara perasaan melankolis dengan rasa riang pasca menyaksikan genangan air hujan.
Interpretasi ini digarap dengan pendekatan live coding melalui piranti lunak Tidal Cycles.
MO’ONG oleh J. Mo’ong Santoso Pribadi
Tanggal rilis: 6 Februari 2026
Format: EP
Label: Small But Hard
Setelah menjalani proses kolaboratif bertahun-tahun dengan projek seperti Raja Kirik dan Takkak Takkak (termasuk kolaborasinya bersama Bilawa Ade Respati dan Sholto Dobie tahun lalu), J. Mo’ong Santoso Pribadi kembali melihat ke dalam dirinya. Mo’ong berupaya melacak dan menggali tiap-tiap pengalaman kebunyian yang diwariskan kepadanya, serta pernah ia pertanyakan dan imajinasikan kembali. Tiap rekaman suara dalam album mini bertajuk MO’ONG adalah manifestasi yang berasal dari objek-objek sumber bunyi yang ia temukan di sekelilingnya. Alih-alih memaksa agar tiap objek sumber bunyi masuk ke dalam sistem musik yang telah ada (dengan menyelaraskan nada tiap objek, mislanya), melalui proses mendengarkan secara intuitif yang penuh perhatian, Mo’ong memberi ‘kebebasan’ kepada tiap objek agar dapat mengeluarkan potensi ‘nada’ milik mereka masing-masing.
Sengkala oleh Raja Kirik
Tanggal rilis: 14 Februari 2026
Format: Album
Label: Yes No Wave Music
Melalui Sengkala, Raja Kirik menyampaikan bahwa musik adalah ruang aman untuk menyimpan memori, arsip-arsip perasaan yang tidak pernah dikodifikasikan. J. Mo’ong Santoso Pribadi (tabuh; tiup; ketuk; petik; dari intstrumen akustik) dan Yennue Ariendra (konstruksi sintesis bunyi berbasis elektronik) mengajak pendengar untuk menolak lupa dengan merasakan denyut sejarah melalui lapisan bunyi. Terutama perihal kesaksian tentang bagaimana kekerasan (dalam watak kolonialisme), sebagaimana bunyi, terus bertransformasi dalam bungkus bahasa terkini demi legitimasi. Di dalam album Sengkala, mereka juga ingin mengingatkan bahwa setiap bunyi, selirih apapun, bisa jadi merupakan bentuk perlawanan yang paling jujur.
Concrete Veins oleh Bergegas Mati
Tanggal rilis: 19 Februari 2026
Format: EP
Label: Gerpfast Kolektif
Aditya Pandu W, selain Taufiq Aribowo, merupakan salah satu orang yang di kemudian hari memiliki ikatan aktivitas musikal mendalam di kota Yogyakarta berdasarkan catatan Jogja Sonic Index (JSI). Melalui penyelenggaraan acara rutin bersama Cabott dan label rekaman Gerpfast Records (didirikan di Malang), Pandu membuktikan bahwa dirinya adalah salah satu pelaku musik eksperimen paling aktif di kota ini. Kebertahanan Pandu juga terbukti lewat projek musik Bergegas Mati yang konsisten berjalan sekaligus berkembang di bawah payung harsh noise. Concrete Veins, mini album yang turut melibatkan scum dan Government Alpha, bisa jadi merupakan potret puncak kualitas produksi musik elektronik-eksperimental ala Bergegas Mati setelah berproses selama bertahun-tahun.
Uncertainty is a Certainty oleh Bahtera
Tanggal rilis: 19 Februari 2026
Format: EP
Label: Rilis Mandiri
Bahtera adalah pseudonym untuk projek musik solo Ali Azca, seorang seniman bunyi dan praktisi tata suara asal Yogyakarta. Berdasarkan telaah pada riwayat bebunyiannya, Azca merupakan salah satu orang yang cukup konsisten menerapkan metode live coding dalam aktivitas penciptaan musik. Album mini bertajuk Uncertainty is a Certainty adalah paket rekaman suara reflektif terhadap siasat bertahan hidup dan bentuk rasa syukur karena bisa menjalaninya. Satu catatan menarik dari pembuatan album mini adalah bagaimana Azca melihat segala keterbatasan dari piranti keras cadangannya, Thinkpad T430 dari tahun 2012, sebagai bagian dari estetika aural pada tiap ‘lagu’ di sini.
Maret
Wakafa oleh Kiai Kanjeng bersama Anekaswara Orkestra
Tanggal rilis: 4 Maret 2026
Format: Single
Label: Rilis Mandiri
Alih-alih dimaknai sebagai salah satu projek musik, Jogja Sonic Index (JSI) mencatat Kiai Kanjeng ke dalam payung kategori metode. Karena, berdasarkan catatan riwayatnya, kelompok musik Kiai Kanjeng terbentuk dengan rujukan spesifik pada seperangkat gamelan yang mereka gunakan. Alih-alih tunduk pada salah satu sistem nada, slendoro atau pelog, gamelan Kiai Kanjeng menerapkan sistem nadanya sendiri yaitu sistem notasi solmisasi: sel-la-si-do-re-mi-fa-sol dengan nada dasar G=do atau E Minor. Tujuan penerapan sistem ini adalah untuk memberikan ruang fleksibel dalam konteks memainkan musik non-Jawa – tanpa kehilangan keJawaannya.
Hasilnya? Seperti yang kita dengar selama ini, atau pada tembang kolaboratif bersama Anekaswara Orkestra di atas – metode Kiai Kanjeng bersama komunitas Maiyah memberikan catatan tersendiri ketika musik eksperimen eksis dan dapat ‘dinikmati’ dalam dimensi yang paling populis.
JSI pertama kali berkenalan dengan nama Septian Dwi Cahyo melalui tulisan obituarinya untuk Paul Gutama Soegijo di situs web Art Music Today. Selanjutnya, JSI mengetahui keterlibatan kolektif Cahyo di Jogja melalui tulisan bertajuk Peran KKM 6.5 Composer’s Collective bagi Mahasiswa Program Studi Penciptaan Musik oleh Maria Octavia Rosiana Dewi. Oleh karena itu, riwayat komposisinya belum sempat ‘diarsipkan’ ke dalam catatan arsip komponis di situs web JSI. Pencatatan komposisi A[n] (serta dua komposisi lain di bawah), yang pertama kali ditampilkan oleh ARCO Ensemble di Solitär (Mozarteum, Salzburg) adalah salah satu upaya ‘awal’ JSI untuk mendalami ranah musik eksperimen di dunia ‘akademis’ – dalam konteks musik klasik kontemporer – serta mempelajari model artikulasinya agar dapat diceritakan kembali dengan bahasa yang tidak menyesatkan.
Napak Tilas oleh Dimensi7 berdasarkan musik Rabu
Tanggal rilis: 11 Maret 2026
Format: Single
Label: Rilis Mandiri
Fajar Afdau adalah salah satu nama orang ‘luar’ Yogyakarta yang kemudian memiliki ikatan mendalam secara musikal dengan kota ini. Selain menginisasi projek ‘musik eksperimen dari kamar tidur’ bernama Dimensi7, Fajar juga terlibat sebagai pembetot bass di satu kelompok musik rock alternatif yaitu A-Tseng Fikrey & The Ladies. Satu ‘lagu’ Dimensi7 juga ikut serta dalam album kompilasi Pekak! Indonesian Noise 1995-2015. 20 Years Of Experimental Music From Indonesia oleh Syrphe dan End of Alphabet Records. Dua ‘tembang’ dalam maxi-single berjudul Napak Tilas oleh Rabu, selain sebagai tambahan jejak aural Dimensi7, juga merupakan potret ikatan kuat persahabatannya dengan Wednes Mandra, salah satu penginisiasi ranah ‘musik eksperimen populer’ angkatan 2010an.
T I T I R oleh Wukir Suryadi
Tanggal rilis: 17 Maret 2026
Format: Album
Label: Rilis Mandiri
Setelah menutup tahun dengan album kolaboratif bersama Jaydawn, Pucung, Pangkur Jeung Hujan Bedog, Wukir Suryadi kembali dengan album solo berdurasi 1 jam 45 menit dengan tajuk T I T I R. Album berisi 25 ‘lagu’ ini memuat beragam olahan bunyi berdasarkan teknik tabuhan, petikan, gesekan dan beragam teknik lain – hasil komunikasi ketubuhan Wukir dengan tiap instrumen musik ciptaannya. Judul T I T I R , yang diterjemahkan secara bebas sebagai ‘Warning‘ (peringatan), diambil dari onomatopeia kentongan – yang juga disepakati dan digunakan secara kolektif sebagai penanda datangnya suatu marabahaya. Bungkus makna pada hasil olah bunyi ini kemudian juga digunakan oleh Wukir sebagai pesan peringatan marabahaya jika manusia tidak berhenti melakukan eksploitasi alam dan juga kepada sesamanya.
JIL oleh Septian Dwi Cahyo pertama kali diciptakan pada tahun 2025, lalu dipresentasikan kepada publik pada tahun 2026 oleh Mondrian Ensemble di kediaman Tony Prabowo. Merujuk teks penjelasan Cahyo, komposisi musik untuk tiga alat musik gesek ini mengeksplorasi transformasi dari Chaos (kekacauan) menuju Order (keteraturan) – bentuk refleksi berdasarkan evolusi bumi berdasarkan teori Big Bang. Beragam gestur interpusi dan/atau turbulensi juga dimuat di dalam laju komposisi ini – hal ini juga dimaknai Cahyo sebagai diskontinuitas dalam satu rangkaian kontinuitas – sebuah upaya untuk mengasingkan pendengar dari hal yang tidak asing (bisa ditebak). Metode algoritmik, khususnya Automata Seluler dan seri deret Fibionaci, membantu pembentukan materi dan/atau konstruksi komposisi musik JIL di dalam konstelasi makna Chaos to Order tersebut.
April
Boss Fight oleh Sanjonas dari Symbiotic II – VA Compilation
Tanggal rilis: 1 April 2026
Format: Single, Kompilasi,
Label: RAMPAK G
Terbentuk tepat satu tahun lalu, label rekaman RAMPAK G diinisiasi oleh Yonaz sebagai ruang akulturasi bunyi yang kaya. Ia mengakar pada ritma, skala dan instrumentasi musik Indonesia dan mempertemukannya dengan gejala bebunyian perkusif tribal dari berbagai belahan dunia. Dalam perjalanannya, RAMPAK G merilis seri kompilasi – melibatkan berbagai ‘kepala’ untuk menghasilkan ragam interpretasi untuk mencapai tujuan tersebut di atas. Salah satunya adalah seri kompilasi bertajuk Symbiotic di mana Sanjonas juga terlibat melalui satu produk musik berjudul Boss Fight.
CYBERQOM oleh Mahamboro dari Symbiotic II – VA Compilation
Tanggal rilis: 1 April 2026
Format: Single, Kompilasi,
Label: RAMPAK G
Mahamboro, seorang musikus dan praktisi tata suara asal Yogyakarta, turut terlibat dalam seri kompilasi Symbiotic oleh RAMPAK G.
Gqom adalah salah satu jenis musik elektronik ‘bawah tanah’ lokal dari Afrika Selatan yang menjadi pilihan eksplorasi RAMPAK G.
Sebagai musikus yang terlibat dalam kompilasi ini, Mahamboro menerjemahkan kembali idiom musik tersebut melalui pengartikulasian kembali secara elektronik (ranah yang sudah tak asing baginya melalui pengalaman bersama projek seperti BRRR., X0-101, Proto Animalia Project dan Sapiens Jazz Core) sambil melibatkan satu instrumen musik pilihan fokusnya: saksofon tenor – melalui tembang berjudul CYBERQOM.
Para Perasuk (Original Score) oleh Yennu Ariendra
Tanggal rilis: 5 April 2026
Format: Album
Label: Yes No Wave Music
Keterkaitan antara musik dan seni pertunjukan bisa jadi merupakan hal yang ‘mendarah daging’ bagi Yennu Ariendra. Ia banyak terlibat dalam penciptaan komposisi bunyi untuk pertunjukan teater bersama Teater Garasi. Perilisan album original score film Para Perasuk merupakan kali kedua ia terlibat dalam penciptaan paket musik untuk film bersama Wregas Bhanuteja.
Catatan menarik di sini adalah musik yang ditata untuk kedua film tersebut hampir keseluruhannya merupakan idiom musik yang menjadi ciri khas Yennu, baik ketika ia bermusik sebagai Y-DRA, Raja Kirik, maupun Belkastrelka (terutama pada album kedua). Belum lagi melihat bagaimana fenomena kelompok Jathilan (terutama unsur kesurupannya) menjadi bahan pokok di dalam film ini.
Secara sederhana, Passive Income memainkan musik alternatif ‘kelangenan‘ anak muda: grunge dan punk rock yang berpadu dengan ciri khas ‘musikus’ angkatan para anggotanya – tidak terlepas dari konteks eksperimentasi bunyi, narasi dan visual. Musik yang mereka ciptaan juga merupakan hasil interpretasi bebas dari grup musik grunge 90an asal Madiun bernama Dasela.
Salah satu hasilnya adalah ‘lagu’ terbalut video musik dengan judul Babibu Bebop! – respon mereka terhadap budidaya kampanye oleh para penguasa dalam rezim yang lalim.
Ethical Crisis oleh Passive Income
Tanggal rilis: 15 April 2026
Format: Single, Video musik,
Label: Dugtrax Records
Passive Income kembali merilis video musik 8 hari setelah perilisan Babibu Bebop! – kali ini untuk lagu berjudul Ethical Crisis – refleksi terhadap benturan ‘etika reaksioner’ yang sebenarnya membuahkan konflik horizontal antara sesama (baca: perang kelas).
Funky Pogo Anjing oleh Passive Income
Tanggal rilis: 21 April 2026
Format: Single, Video musik,
Label: Dugtrax Records
6 hari berlalu, Passive Income kembali merilis video musik untuk lagu berjudul Funky Pogo Anjing – sebuah seruan resistensi terhadap sesat pikir politis yang makin marak dalam konteks yang sama dalam lagu sebelumnya.
N1nj4 k0’542u?!! (Ninja Hattori Bootleg) {fndhdg MINI bottle FLIP riririmeX} oleh Fundahdog̸̦̝͇̝̫͖͇̽̉͆̄̔̽̈̓͗͝ berdasarkan musik Mahamboro
Aktivitas me-remix lagu merupakan hal yang sudah lazim ada dalam konteks musik elektronik populer sejak dulu. Pada 15 April 2023 lalu, Mahamboro merilis album mini berjudul Resurrected. Album mini ini berisi 5 track hasil gubah bebas (remix) dari versi bahasa Indonesia lagu-lagu pembuka tayangan animasi Jepang. 1 tahun lebih 8 hari kemudian, salah satu roster dari Ear Flux Records – Fundahdog̸̦̝͇̝̫͖͇̽̉͆̄̔̽̈̓͗͝ – menggubah ulang lagu N1nj4 k0’542u?!! dari album mini tersebut dengan dominasi beat berat repetitif dan durasi lagu yang lebih ramping.
Pasca perilisan album mini bertajuk Epitaph via Yes No Wave Music, Sandikala kembali melepas rekaman gubahan musik – kali ini dalam konteks kolaborasi bersama grup musik ‘jazz’ asal Eropa bernama Anaphora. Masing-masing anggota Sandikala Ensemble yang terlibat dalam rekaman ini menyumbangkan satu komposisi musik. M||||||JIL oleh Yustiawan Paradigma, Puspawarna oleh Dion Nataraja dan Sunya Ruri oleh Roni Driyastoto.
Masing-masing komposisi ini terasa benar-benar menonjolkan aspirasi bunyi masing-masing dari mereka. M||||||JIL mengingatkan JSI pada komposisi untuk bunyi dan benda Yusti di projek kolaboratifnya bersama Yoga Nugraha Usmad, Catu Daya. ‘Tembang’ Puspawarna berdiri sebagai jalinan antara bunyi, durasi dan tantangan mendengarkan yang konsisten muncul di komposisi-komposisi Dion sebelumnya. Gesekan rebab Roni yang menjadi pembuka dan timbul tenggelam secara dinamis selama Sunya Ruri berbunyi melempar ingatan ketika ia mengampu instrumen yang sama pada komposisi Herutjokro As Posthuman sekitar 5 tahun lalu.
If It Swing oleh Rangga Purnama Aji
Tanggal rilis: 28 April 2026
Format: Album
Label: Rilis Mandiri
If It Swing adalah fenomena ketika seorang musikus (dengan pengetahuan teori dan praktik musik mendalam) memanifestasikan interpretasinya terhadap genre free jazz melalui kaca mata komposisi elektronik algoritmis.
Tiap repertoar (total ada 10 repertoar) di album ini tercipta berdasarkan deretan baris ‘kode’ yang telah disiapkan untuk kemudian diproses melalui Tidal Cycles dengan pendekatan personal terhadap unsur improvisasi dalam struktur komposisi musik free jazz, sambil memetakan kemungkinan nuansa ‘swing‘ (berayun) dalam tiap repertoar.
Album ini juga dilengkapi dengan pokok pikiran dalam wujud pertanyaan: lantas, apakah paket repertoar ini, ketika didengarkan, telah memenuhi kaidah-kaidah free jazz secara kontekstual?
Rully Shabara Sample Pack oleh Rully Shabara
Tanggal rilis: 28 April 2026
Format: Antologi, Sample Pack,
Label: Rilis Mandiri
100 rekaman ‘sample‘ suara ini seutuhnya berasal dari organ tubuh penghasil bunyi dan/atau suara miliki seorang manusia bernama Rully Shabara.
Telah lama kita ketahui bahwa sample–sample ini juga dapat kita jumpai dan respon langsung melalui piranti lunak berbasis situs web bernama Xhabarabot Voice Machines.
Dengan dipublikasikannya sample pack ini, Rully kembali menawarkan ‘pemanfaatan’ kembali bunyi-bunyi tubuhnya kepada semua khalayak dengan segala kemungkinan pendekatan.
Mei
Atraksi oleh DSGR
Tanggal rilis: 1 Mei 2026
Format: Single
Label: Rilis Mandiri
DSGR lahir sebagai entitas musik grunge yang kemudian berkembang melibatkan aksi improvisasi bebas dan pengadaan ruang kepada unsur noise dalam tiap repertoar mereka. Mungkin, keberadaan Wahyu Kiky Yudha Prasetya sebagai vokalis juga memberikan nuansa ‘khas’ tersendiri untuk grup musik ini. Karena, tidak jarang teknik-teknik vokal yang tidak cukup umum dileburkan dalam komposisi musik populer turut muncul dalam ‘lagu’ mereka. SingleAtraksi dibuka dengan teknik throat singing dan membawa pendengar untuk memahami pesan tentang eksploitasi kekuasaan terhadap alam dan seisinya ketika ia berdiri melampaui keadilan.
Konsualitas (Original Performance Score) oleh Mahamboro
Tanggal rilis: 5 Mei 2026
Format: EP
Label: Rilis Mandiri
Konsualitas merupakan paket komposisi yang diterbitkan secara mandiri pasca penggunaannya sebagai ‘musik latar’ untuk karya seni pertunjukan oleh Mega Buana dengan tajuk Kasualitas.
Paket komposisi berjumlah 5 lagu dan berdurasi total sekitar 42 menit ini dimaksudkan ada sebagai entitas yang dilepaskan dari konteks penggunaannya sebagai musik latar di panggung. Pertunjukan yang sifatnya sementara telah berlalu, namun fragmen residu (atau arsip) bunyinya tetap berlaku. Keberadaannya dimaksudkan sebagai jejak. Alih-alih melekat pada narasi, jejak-jejak ini dapat didengar dalam berbagai kondisi.
Masih dalam konteks penciptaan musik algoritmis melalui piranti lunak bernama Tidal Cycles, On Breaks menawarkan penekanan pada momen ‘istirahat singkat’ – atau menurut Rangga: jeda mendadak – yang diartikulasikan melalui penerapan poliritme ganjil, bunyi bercorak glitchy, varisi tingkat pitch serta aransemen dinamis terhadap tekstur-tekstur bunyi yang bersifat polifonik dalam ‘koridor’ gaya musik breakcore.
Funky Pogo Anjing oleh Passive Income bersama Oik Wasfuk
Pada 16 Mei 2026, Passive Income mengumumkan ajakan kepada para pendengar untuk mengirimkan suara mereka (dalam ragam rap, omelan, pidato, dan/atau ocehan) agar dapat ditambahkan dalam lagu Funky Pogo Anjing.
3 hari kemudian (19 Mei 2026), lirik kiriman Oik Wasfuk (anggota grup musik A Sistem Rijek?! dan BOAR) yang mereka maknai sebagai ‘jompa-jampi ghoib’ terbit dalam balutan lagu tersebut.
Funky Pogo Anjing oleh Passive Income bersama Lord Wilco
6 hari pasca perilisan ‘jompa-jampi ghoib’ oleh Oik Wasfuk, Passive Income kembali merilis salah satu kiriman suara pendengarnya – kali ini lirik dalam konteks rap oleh Lord Wilco – yang dibalut dalam alunan lagu Funky Pogo Anjing.
SNAP oleh Rangga Purnama Aji dan Raung
Tanggal rilis: 22 Mei 2026
Format: EP, Kolaborasi,
Label: Rilis Mandiri
Mengambil jeda sejenak dari konteks live coding, 17 hari pasca perilisan On Breaks, Rangga Purnama Aji melepas album kolaboratif bersama Raung (Rayvan Septiawan) dengan judul SNAP.
Paket musik ini hanya menggunakan unsur instrumen bass elektrik dan seperangkat drum yang dimainkan secara bergantian oleh mereka – dua instrumen yang mereka pilih atas dasar ketidaknyamanan untuk memainkan.
SNAP digarap dalam etos jamming session yang berkembang menjadi sesi penciptaan komposisi instan dalam konteks improvisasi bebas dengan hasil 6 ‘lagu’ dengan nuansa saling berlainan.
Juni
Funky Pogo Anjing oleh Passive Income bersama Kathleen Malay
10 hari setelah penerbitan Funky Pogo Anjing versi rap ala Lord Wilco, Passive Income kembali melepas lirik kiriman – dimaknai sebagai ‘Puisi Mbelinx’ – Kathleen Malay melalui kanal media sosial mereka.
Syntax of Sound oleh Betrand Angelius Zai
Tanggal rilis: 1 Juni 2026
Format: EP
Label: Rilis Mandiri
Syntax of Sound adalah percobaan pertama Betrand Angelius Zai untuk menciptakan musik elektronik berbasis komputer melalui piranti lunak Tidal Cycles.
Selain bermaksud menawarkan pengalaman mendengarkan unik dan album mini ini juga menjadi penanda babak awal bagi Betrand untuk mengejawantahkan artikulasi penciptaan musik berbasis bahasa pemrograman.
Dalam paket musik ini, Ruang Pati tampak sedang melakukan uji coba terhadap berbagai kemungkinan musikal – yang mungkin banyak berasal dari sesi jamming – berdasarkan bagasi referensi musik elektronik kekinian – dengan banyak injeksi kosakata dan idiom subkultur lokal – di ‘skena’ elektronik ‘bawah tanah’ Indonesia.
Batara Kala oleh Untu
Tanggal rilis: 6 Juni 2026
Format: Single, Video musik,
Label: Rilis Mandiri
Untu adalah grup musik inisiasi Sean Hayward, seorang musikus dan akademisi musik yang cukup lama berpraktik di Yogyakarta, berdasarkan pada ketertarikannya untuk memadukan unsur metallophone gamelan Jawa dengan idiom musik metal ekstrim.
Setelah pertama kali diinisiasi dan merilis album mini berjudul Rats of Oran di Amerika Serikat, Untu kembali dengan anggota baru – semuanya orang Indonesia, kecuali Sean – dan percobaan baru melalui lagu berjudul Batara Kala.
Percobaan semacam ini, untuk mencapai hasil yang ideal, bukan lah suatu hal yang mudah. Belum lagi, instrumen gamelan menuntut pendekatan tersendiri dalam konteks perekamannya. Namun, dalam hal ini, keberadaan Batara Kala meningatkan JSI pada album musik Mystical oleh Mystis (grup musik black metal asal Yogyakarta) yang cukup berhasil memadukan idiom bunyi barat dan ‘timur’ dalam konteks musik ekstrim populer.
Menurut Cahyo, karya ini merepresentasikan kombinasi antara tendensi penciptaan musik algoritmis dengan tata bahasa dasar berdasarkan aksara Jawa (Hanacaraka).
Hasil ‘penerjemahan’ ini kemudian digunakan untuk membentuk sistem interval dan alur dalam karya ini – yang kemudian dijahit ke dalam pola dan/skema automata seluler. Meskipun demikian, otomatisasi tidak menjadi bagian menyeluruh dari karya ini, karena tetap akan ada momen-momen tertentu yang berasal dari tegangan antara kesan ‘pemenjaraan’ (pembatasan) sistem dan ruang-ruang kebebasan di dalam komposisi ini.
Selain dimaknai sebagai hasil interaksi antara bunyi ciptaan manusia dan alam, rekaman langsung ini juga ditawarkan, khususnya oleh Ken, sebagai bentuk dari musik masa depan yang ‘menapak bumi’ secara material – responsif terhadap situasi situs penciptaan gejala bunyi – dan tidak terikat pada tarikan gravitasi idiom musik barat.
Abu oleh J. Mo’ong Santoso Pribadi melalui Takkak Takkak
(Hampir) Sama halnya dengan fenomena bunyi Raja Kirik, projek musik ini mempertemukan antara sentuhan tradisi mengakar serta ‘kuncup-mekar’ dari instrumen ciptaan mandiri oleh Mo’ong dengan beragam bunyi berbasis penyintesis dan sample rekaman Shigeru alias DJ Scotch Rolex.
Dalam percobaannya pada kali kedua ini, Takkak Takkak memaknai proses rekaman jarak jauh antara Mo’ong dan Shigeru sebagai representasi tanah yang saling berjauhan namun saling bertemu dalam dimensi bunyi. Pemaknaan tersebut kemudian diimajinasikan kembali sebagai lanskap fantastis yang terartikulasikan dalam wujud bunyi – yang serta serta merta menimbulkan gejala visual dalam rupa dataran vulkanik: tidak terlepas dari identitas keleluhuran dan ‘kebumian’ mereka.
Rampak Sampler vol. 1
Tanggal rilis: 23 Juni 2026
Format: Antologi, Kompilasi, Sampler Pack,
Label: RAMPAK G
2 bulan pasca perilisan album kompilasi Symbiotic II,RAMPAK G kembali menerbitkan paket bebunyian terbaru.
Alih-alih menerbitkan paket kompilasi dengan nama-nama baru, di sini RAMPAK G membagikan ‘metode’ penciptaan produk musik mereka dengan melepas 65 tracksample pack (25 track oleh Sanjonas) yang membentuk beberapa lagu di Symbiotic II.
Selain membagikan ‘metode’ berbasis paket bunyi yang menjadi ‘bumbu dapur’ lagu-lagu di kompilasi sebelumnya, RAMPAK G mengundang semua khalayak untuk merespon sample pack ini dan mengirimkan hasil olahan para perespon yang kemudian akan digunakan sebagai materi kompilasi berbasis sampler oleh RAMPAK G mendatang.
Fulfilled___ oleh Indra Menus berdasarkan musik Nothing Out Decided
Tanggal rilis: 28 Juni 2026
Format: Kompilasi, Remix,
Label: Rilis Mandiri
Pada akhir tahun 2023, grup musik asal Aceh – NOD – merilis album berisi 8 ‘lagu’ dengan judul Neutral of Dope.
Kemudian, NOD mengajak sejumlah ‘solois’ dari ranah musik elektronik ‘bawah tanah’ untuk merespon beberapa lagu mereka yang kemudian dirilis sebagai album baru berjudul Nothing Out Decided.
Indra Menus, salah seorang pelaku skena musik noise dan/atau eksperimental Yogyakarta, menjadi salah satu perespon – ia menyumbang satu respon untuk lagu berjudul Fulfilled – yang menggunakan pendekatan pelapisan unsur ‘noise‘ dan beat repetitif pada ‘tembang’ yang tadinya bernuansa statis tersebut.
It Is Indeed Swinging oleh Rangga Purnama Aji
Tanggal rilis: 29 Juni 2026
Format: Album
Label: Rilis Mandiri
It Is Indeed Swinging bisa jadi merupakan jawaban awal dari pokok pikiran – sekaligus pertanyaan reflektif – album musik free jazz berbasis komposisi algoritmis Rangga Purnama Aji sebelumnya yang bertajuk If It Swing (?).
Pasalnya, Rangga meningkatkan kompleksitas penciptaan album berdurasi total sekitar 47 menit ini. Terutama dalam konteks instrumentasi. Selain barisan kode yang disiapkan sejak awal, It Is Indeed Swinging juga tercipta berdasarkan sederet instrumen ‘akustik’ yang direkam sebagai ‘bumbu masak’ untuk 10 ‘lagu’ di dalamnya. Instrumen-instrumen yang direkam meliputi: flute (‘seruling’) yang diciptakan secara mandiri dari sedotan plastik, corong trombon berbahan kayu, dua saron mainan, seruling Sunda, seruling bansuri, pupuik lambok, sarunai, karet gelang, drum set, instrumen perkusif mainan, kalimba dan oud elektrik yang tidak dialiri listrik. Perekaman sumber-sumber bunyi dibutuhkan berbasis pada kebutuhan penciptaan impresi atau kesan bahwa ‘lagu-lagu’ ini dimainkan oleh sekelompok ansambel free jazz.
Namun dalam hal ini konteks penciptaan It Is Indeed Swinging, terutama pada fase pengolahannya melalui Tidal Cycles, tidak terlepas juga dari proses sintesis bunyi – termasuk pemrosesan deretan sumber bunyi di atas. Keseluruhan proses ini, pun, tetap dimaknai Rangga sebagai fase eksperimen terhadap kaidah-kaidah musik free jazz. Misalnya unsur harmolodics, penggunaan tonalitas secara manasuka, mikrotonalitas (sekaligus atonalitas), ‘ayunan’ ritma yang bebas dan berkelanjutan, tekstur bunyi kakofonik, probabilitas pola, energi bebunyian yang kacau tapi jujur dan improvisasi bebas. Melalui prinsip dan/atau pendekatan live coding, Rangga mengambil peran sebagai seorang pemimpin orkes sekaligus bagian dari pemain musik di dalam orkes. Hal ini juga, menurut hemat JSI, menimbulkan kesan hubungan horisontal yang ulang-alik antara pencipta dan ciptaannya, antara sebagai sumber bunyi dan pendengarnya.